Jumat, 25 November 2016

Skizofrenia



Aku bingung, mengapa banyak orang menjauhiku?
Mengapa banyak orang takut ketika melihatku?
Mengapa mereka lari ketika aku menghampiri?
Aku tak gila, sekali lagi aku tak gila. Aku hanya sedang meluapkan emosi yang ada dalam jiwaku, terlalu banyak masalah, terlalu banyak amanah yang aku emban. Jadilah aku yang seperti sekarang ini. Ini memang bukan aku yang dulu, ini adalah aku yang sekarang. Aku dengan gaya yang berbeda, yang lebih berani untuk meluapkan emosi, yang lebih berani untuk membagi ilmu kepada semua insan. Aku hanya ingin mereka semua menjadi penghuni surga. Tapi mengapa mereka menganggapku aneh? Mengapa?

“Rohim, apa yang terjadi denganmu?
“Aku baik-baik saja, mengapa kau bertanya seperti itu Rahman?”
“Aku hanya khawatir padamu.”
            Orang tua, sahabat, teman-teman, bahkan orang yang tak kukenal pun khawatir terhadapku. Mereka kenapa? Aku pikir merekalah yang aneh, bukan aku. Aku baik-baik saja, tak ada yang aneh dengan sikapku, aku tak jahat, aku tak menggigit, aku juga tak merepotkan mereka. Tapi mereka selalu mengatakan bahwa saat ini aku aneh, aku berubah? Aku hanya ingin berbagi ilmu yang aku punya sebelum aku meninggalkan dunia ini.
            Umur orang tak ada yang tahu, tapi aku bersiap-siap untuk menemui maut itu. Apakah itu salah? Aku memang  hampir putus asa dengan penyakit yang aku derita, penyakit yang telah lama bersemayam dalam raga ini, penyakit yang menunda karirku. Tapi aku berpikir kembali, bahwa yang harus kukejar adalah akhirat, bukan dunia. Maka dari itu aku ingin memperbanyak amalan yang bisa mengantarkanku ke pintu surga setelah nyawa ini dipanggil oleh-Nya.
            Tingkahku yang saat ini memang sedikit berbeda, aku mulai senang ceramah di facebook, whatsapp, dan di dunia nyata. Tapi mengapa orang-orang mengatakan bahwa psikologisku terganggu? Aku memang sering mengatakan bahwa “Anggap saja aku ini adalah ustad Arifin Ilham” itu hanya candaan belaka, tapi mengapa mereka menganggap serius? Mereka menyangka aku gila karena terobsesi ingin menjadi pendakwah. Mereka berkata bahwa psikologisku terganggu gara-gara aku tak lolos mengikuti Akademi Dakwah Papua (ADP). Haha...mereka itu ada-ada saja. Ada juga yang mengatakan bahwa aku gila karena depresi akibat penyakit kanker otak yang aku derita.

            Sahabat-sahabatku merasa sedih, tak bisa tidur, tidak tenang gara-gara melihat tingkahku yang kata mereka sangat aneh. Banyak dari mereka yang memposting doa untukku di media sosial pribadinya. Hal yang aneh memang, tapi aku terharu, begitu sayangnya mereka padaku. Begitu pedulinya mereka padaku. Padahal diri ini hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa, tapi masih banyak yang menyayangiku. Aku sangat bersyukur pada-Mu yang telah memberikan sahabat-sahabat terbaik untuk hamba yang berlumur dosa ini. Suatu saat aku pasti kembali seperti dahulu, doakan saja. Mungkin benar, saat ini aku sedang berada pada titik jenuh gara-gara penyakit yang kuderita. Aku akui memang aku sedikit aneh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar