Rabu, 17 November 2021

Al-Quran Baru Semangat Baru

Berbagai cara dilakukan untuk sekadar menyuntik semangat juangku menghafalkan kalam-Mu. Kali ini dengan cara membeli Al-Quran yang lucu dengan bahan kertas bookpaper berwarna kuning yang memiliki bau khas. Kertas bookpaper warna kuning adalah salah satu kertas favoritku, semoga Al-Quran baru ini menjadi salah satu alasanku untuk terus bermesraan dengannya.

Alhamdulillah setoran surat yang cukup panjang itu telah aku lalui, surat Al-Mutaffifin yang cukup menguras otakku. Tibalah giliran surat berikutnya yaitu surat Al-Insyiqaq. Ada waktu untuk menghafal selama 3 hari, dari mulai hari Sabtu sampai Senin. Cukup panjang kesempatan untuk menabung hafalan sebelum kusetorkan pada sang ustadzah. Namun, apalah daya selalu ada alasan yang menggoda diri ini untuk berleha-leha menikmati hidup tanpa menghafalkan kalam-Nya. Masih sibuk dengan urusan dunia hingga lupa untuk berjuang mengejar target hafalan yang telah ku gantungkan pada langit senja itu. Hari Senin itu telah tiba, tepatnya tanggal 25 Oktober 2021 berdebar jantung ini ketika bertemu dengan ustadzah, entah mengapa selalu seperti itu. Ku setoran hafalanku hingga akhir ayat surat Al-Insyiqaq. Alhamdulillah setoran kali ini lancar. Beliau mengingatkanku untuk terus semangat menghafal Al-Qur’an.

Berselang satu hari libur dari setoran hafalan Al-Quran, itu tandanya aku harus muroja’ah dan menambah hafalan baru untuk disetorkan pada hari berikutnya.

Singkat cerita, jadwal setoran hafalanku yaitu Rabu 27 Oktober 2021 surat Al-Buruj, Jum'at 29 Oktober 2021 surat At-Tariq dan Al-A’la. Alhamdulillah semakin hari semakin dipermudah untuk mencerna hafalan, sedikit ada kemajuan dalam penambahan jumlah hafalan. Aku selalu berharap untuk selalu diistiqomahkan dalam kebaikan ini. Semoga yang awalnya sulit hafal dan mudah lupa akan berganti menjadi mudah hafal dan sulit lupa Aamiin.

Senin 01 November 2021 sayang seribu sayang, ketika semangat itu berkobar sang ustadzah tidak bisa membersamai diri ini untuk menyimak setoran hafalan dengan alasan beliau sedang kurang sehat. Ku doakan selalu semoga beliau lekas sembuh seperti sedia kala. Aku pun tak bisa memaksakan kehendak, jadwal setoran dipending terlebih dahulu. Itu tandanya setoran berikutnya harus berlipat ganda.

Tibalah saatnya jadwal setoran tiba kembali yaitu hari Rabu 03 November 2021 Alhamdulillah kali ini setor hafalan surat Al-Gasyiyah, ternyata setoran kali ini tidak bisa dua kali lipat lebih banyak, masih tetap satu surat yang pada hari Senin gagal ku setorkan. Dapat disimpulkan bahwa banyaknya hafalanku tergantung jadwal setoranku. Semakin sering ada jadwal setoran maka semakin banyak jumlah hafalan. Entah mengapa diri ini selalu harus dipaksakan untuk menambah hafalan. Semakin lama jeda waktu untuk setoran hafalan, maka semakin sedikit hafalan yang disetorkan, karena rasa malas itu selalu melenakanku. Akupun menceritakan rasa malasku pada sang ustadzah, Beliau memotivasiku untuk mengubah rasa malas itu menjadi semangat yang membara. Ustadzah berkata : “Seharusnya, semakin banyak waktu jeda untuk menghafal, maka semakin banyak tabungan hafalan yang bisa disetorkan pada jadwal setoran berikutnya. Ayo semangat!”

Akupun mengiyakan dan tersenyum malu. “Insya Allah akan diusahakan Ustadzah, hehe.” pungkasku dengan nada cengengesanku. Maklumlah usia sang ustadzah denganku tidak berjarak begitu jauh, hingga aku masih merasa nyaman untuk menunjukkan sikap cengengesanku.

 

Jum’at 05 November 2021 tibalah kembali jadwal setoran. Kali ini dua surat yang mampu ku setorkan pada sang ustadzah yaitu surat Al-Fajr dan Al-Balad. Dua surat ini memang sebelumnya sudah pernah dihafalkan hingga tidak terlalu menguras tenaga untuk menghafalkannya kembali. Alhamdulillah diberi kelancaran untuk menyetorkan dua surat ini. Kali ini sang ustadzah memberitahuku tentang ilmu tajwid yang ada di dalam surat tersebut, Alhamdulillah sedikit bertambah ilmu tajwidku hingga akupun termotivasi untuk membuka dan mempelajari kembali buku tajwid yang sudah lama ku beli tapi lama pula tak ku sentuh. Rasa semangat ini sedang memuncak untuk terus bermesraan dengan kalam-Nya. Namun, pada puncak semangat ini ada ujian besar menghampiriku. Tamu bulanan itu datang menggodaku untuk berleha agar aku istirahat bermesraan dengan kalam-Nya. Aku berazam untuk terus menambah hafalan dengan cara mendengarkan murotal dari speaker Al-Quran dengan harapan ayat-ayat Al-Qur’an yang aku dengarkan akan terekam kuat dalam memori. Meski sejujurnya diri ini lebih mudah menghafal dengan cara membaca daripada mendengarkan , namun tak ada pilihan lain kali ini, karena tamu agung itu sedang datang. Semoga saja usahaku ini membuahkan hasil yang kuharapkan.

 

Beberapa hari kemudian, Alhamdulillah tamu agung itu telah pulang, akupun bisa melanjutkan hafalan yang tertunda. Alhamdulillah surat-surat berikutnya sudah pernah kuhafalkan sebelumnya pada waktu aku belum memulai setoran pada sang ustadzah, jadi kali ini tinggal muroja’ah saja. Semoga proses muroja’ahnya dimudahkan.

 

Setoran kali ini aku meminta jadwal digeserkan, yang biasanya setoran dilakukan setiap ba’da Ashar, khusus hari ini ingin setoran malam hari yaitu ba’da Isya dengan alasan masih perlu waktu untuk menghafal.

Hingga akhirnya waktu malampun tiba dan aku harus mengumpulkan semangat serta mengatur detak jantungku agar tidak derdetak ekspres. Entah mengapa setiap berhadapan dengan beliau selalu saja jantung ini berdetak lebih kencang dari biasanya, ada rasa malu serta grogi yang selalu membelenggu. Selalu ku panjatkan doa agar dilancarkan dalam melantunkan ayat-ayat-Nya.

 

Subhanallah...Alhamdulillah... tepat hari Jum’at 12 November 2021 Alhamdulillah Allah telah mempermudahku untuk setoran surat As-Syams sampai An-Nas. Bahagia sekaligus haru akhirnya 1 juz telah  ku lalui. Ada pesan sang ustadzah yang selalu harus ku ingat bahwa “Semakin Banyak Hafalan, Semakin Banyak Lupa.” Itu artinya Semakin banyak hafalan maka akan semakin banyak yang terlupakan, oleh karena itu semakin banyak hafalan harus semakin sering muroja’ahnya, karena hafalan tanpa muroja’ah akanlah sia-sia.

Juz 30 telah terlewati, semoga hafalan yang sudah disetorkan tidak akan terbang melayang bersama angin, semoga hafalan ini selalu terpatri dalam sanubari.

Akupun menanyakan pada sang ustadzah untuk setoran berikutnya harus juz berapa. Aku selalu ingin disamakan seperti santriah yang dibimbing oleh Beliau. Karena diri ini ingin merasakan apa yang dirasakan oleh mereka para penghafal Qur’an.

Ustadzah pun mengatakan bahwa aku boleh melanjutkan hafalan ke juz 1 atau juz 29. Tapi Beliau lebih menyarankan untuk menghafalkan juz 29 terlebih dahulu dengan alasan menghafalkan juz 29 akan lebih mudah karena setiap ayatnya masih tergolong pendek-pendek. Namun aku meminta izin untuk menghafalkan surat Yasin terlebih dahulu dengan alasan surat Yasin sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti ziarah kubur, tahlil, yasinan dalam kegiatan beemasyarakat, dll. Takutnya sedang dalam kebetulan tidak membawa Al-Qur’an jika sudah hafal surat Yasin maka masih tetap bisa mengikuti membaca surat Yasin tanpa melihat Al-Qur’an. Alhamdulillah alasanku diterima sang Ustadzah meskipun beliau sepertinya sedikit meragukan keseriusanku untuk menghafalkan surat Yasin terlebih dahulu.

 

Senin, 15 November 2021. Tibalah saatnya setoran surat Yasin.

“Benar mau surat Yasin saja?” tanya sang Ustadzah memastikan.

“Iya Ustadzah, kalau sudah hafal surat Yasin, baru nanti menghafal juz 29.”

“Baiklah kalau begitu, silakan dimulai.” Dengan senyum manisnya yang begitu menawan.

Akupun memulai melantunkan surat Yasin dari ayat 1 sampai 12 dengan begitu lancar, mungkin karena sudah sering dibaca jadi sedikit lebih mudah menempel pada memoriku. Berbeda halnya dengan ayat 13 sampai seterusnya masih belum terlalu nempel pada memoriku hingga membuatku harus terus mengulangnya. Padahal sudah coba kuhafalkan dan sudah lumayan lancar pada saat belum berhadapan dengan sang Ustadzah. Rasa grogi membuat hafalanku hancur lebur berantakan tak tentu arah hingga tak mampu ku satukan kembali puing-puingnya yang akhirnya membuatku menyerah cukup sampai ayat 12 saja setoranku hari ini. Akan ku ulang setoranku pada jadwal setoran hari berikutnya.

 

Berhari-hari ku amati, sepertinya jadwal setoran 2 hari sekali dan ba’da ashar sedikit kurang efektif. Akhirnya aku pun memberanikan diri untuk meminta perubahan jadwal setoran serta meminta tambahan jadwal setoran menjadi setiap hari kecuali hari Sabtu dan Minggu karena khusus hari itu ingin aku khususkan untuk muroja’ah dan mengistirahatkan memori ini. Serta ingin jadwal setorannya diubah menjadi ba’da isya agar terasa lebih santai tanpa terganggu konsentrasi karena belum mandiin anak, belum masak, dll. Biasalah ibu-ibu sore hari banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan hingga membuat fokus terpecah. Setidaknya kalau ba’da isya sudah beres pekerjaan rumah karena menuju malam hari adalah waktu untuk mengistirahatkan raga dan jiwa. Adapun alasan ingin tambah jadwal setoran karena aku merasa diberi selang satu hari untuk menghafal, tidak bisa aku manfaatkan sebaik-baiknya. Nyatanya libur setoran maka libur menghafal, jadi ku pikir lebih baik setiap hari setoran agar setiap hari pula aku menghafal. Sayang  seribu sayang, permintaanku tidak bisa sepenuhnya direalisasikan karena sang Ustadzah harus membagi waktunya untuk menerima setoran hafalan dari yang lainnya. Namun, untuk perubahan setoran bisa menjadi malam hari yaitu ba’da Isya setiap hari Senin, Rabu, dan Jum’at. Hal itu tidak menyurutkan semangatku untuk terus berjuang.

 

Hari ini yaitu hari Rabu, 17 November 2021 aku hanya mampu menyetorkan ayat-ayat yang sebelumnya sudah ku setorkan namun tidak lancar yaitu surat Yasin ayat 13 sampai 27. Jujur  saja kemarin aku libur menghafal, entahlah angin malas itu berhembus membelaiku hingga membuat semangatku padam. Aku hanya menghafal dengan sungguh-sungguh dari pagi hari, karena ada rasa malu pada sang Ustadzah jika hafalan tidak bertambah maka sekuat tenaga aku mencoba terus-menerus untuk menghafal minimal dapat melancarkan satu halaman yaitu surat Yasin  ayat 13 sampai 27. Memang rasa malu terhadap manusia masih lebih besar daripada rasa malu terhadap Sang Pencipta, tapi aku masih tetap bersyukur karena rasa malu itu masih menjadi motivasi untuk terus berubah menjadi lebih baik dari hari ke hari. Semoga suatu saat nanti malu terhadap Sang Pencipta lebih besar daripada malu terhadap manusia yang sebatas makhluk ciptaan-Nya.

Tak terasa tulisan diary kali ini telah menghabiskan waktu sekitar 3 jam, pantas saja mata ini sudah berat untuk terbuka, ternyata jam menunjukkan pukul 23.21 WIB. Tunggu cerita berikutnya ya sahabat 😊

Doakan selalu agar diri ini terus istiqomah menjadi pribadi  yang lebih baik dari hari ke hari 😊🤲

 

_17 November 2021_

#susantimopeneur #semangat hafidzah #30juz #diaryotw30juz

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar