Perkembangan sejarah sastra pada periode 1933- 1942.
Berdirinya pujangga baru membawa angin segar bagi para
pengarang. Mreka lebih leluasa dan lebih bebas mengeluarkan pendapatnya, isi
hati dan pikirannya yang sudah lama terpendam dalam benaknya.
Menurut angkatan ini kesusastraan selain berfungsi untuk
melaksanakan atau menggambarkan tinggi rendahnya suatu bangsa, juga untuk
mendorong bangsa tersebut ke arah yang lebih maju. Pengarang pujangga baru
banyak dipengaruhi pujangga barat terutama Belanda. Sebab pengarang Indonesia
banyak dididik oleh bangsa Belanda tersebut. Misalnya YE Tatengkeng sangat
dipengaruhi oleh Belanda yaitu Ilem Kloos dan Jacques. YE Tatengkeng adalah
penyair Indonesia yang religius yang dipengaruhi pujangga barat. Adapun HAMKA
adalah pengarang prosa yang religius bernapaskan islam yang dipengaruhi
pujangga Mesir yang bernapaskan islam yaitu Al Manfaluthfi. Sedangkan Sanusi
Pane banyak dipengaruhi pujangga India sehingga ia disebut pengarang mistikus
ketimuran. Amir Hamzah dijuluki raja penyair pujangga baru yang dipengaruhi
pujangga islam serta adat istiadat melayu. St Takdir Alisyahbana dan Armijn
Pane dipengaruhi Barat.
Walaupun berbeda paham dengan misi yang berbeda, tapi mereka
satu tujuan yaitu ingin membangun kebudayaan Indonesia dan menerbitkan majalah
pujangga baru. Pujangga baru didirikan mempunyai tujuan serta mempunyai sifat
dalam sastranya.
Kejadian penting yang terjadi pada zaman pujangga baru
Adanya pertemuan dengan bangsa Eropa, yang menghasilkan dan
memberikan pengaruh kepada perkembangan politik, cara hidup, jalan pikiran, dan
seni sastra. Lahirnya sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 mengangkat
bahasa Melayu menjadi bahasa resmi di sekolah-sekolah. Waktu itu bahasa Melayu
digunakan oleh penduduk di Malayasia, Kep. Riau, Sumatra Timur, dan Kalimantan
Barat.
Sifat kesusatraanya yang tadinya bertemakan kedaerahan
sekarang meningkat menjadi bertemakan nasional (kebangsaan). Bentuk maupun isi
karangannya berubah, bentuk puisi menghasilkan sajak ditikhon, quatrain,
sektet, septima, oktaf dan soneta. Setiap karangan memperlihatkan gaya bahasa
pengarangnya. Nama pengarangnya dibubuhkan pada hasil karangannya. Gaya bahasa
dipengaruhi kesusastraan Belanda dan isi karangannya dalam bentuk prosa
membahas tentang persamaan hak, kemajuan bangsa, pandangan hidup, cita-cita
bangsa untuk mendapatkan kemerdekaan.
Menurut pendapat Drs. Iskandarwasid M.Pd, dkk bahwa
kelahiran Pujangga Baru yang diterbitkan pada tahun 1933, namun pada tahun 1942
dihentikan penerbitannya karena dilarang oleh pemerintahan Jepang. Pada tahun
1949 terbit kembali sampai tahun1953, para pendirinya yaitu Armyn Pane, Amir
Hamzah dan St Takdir Alisyahbana.
Dengan munculnya majalah tersebut menjadi suatu ciri betapa
besarnya semangat dan keinginan pengarang muda Indonesia untuk memiliki
medianya sendiri.
Sebelumnya sudah terbit beberapa majalah yang memuat tentang
cerita, sajak, serta bahasan sastra diantaranya: majalah Sri Pustaka
(1919-1942), Panji Pustaka (1919-1942), Jong Java (1920-1926), dan Timbul
(1930-1933).
Majalah Timbul pertama terbit dalam bahasa Belanda. Mulai
tahun 1932 terbit dalam bahasa Indonesia, redakturnya Sanusi Pane. Ketika St
Takdir Alisyahbana bekerja di Balai
Pustaka beliau membuka rubrik menuju kesusastraan baru yaitudalam majalah Panji
Pustaka mulai tahun 1932, dan diterbitkan oleh Balai Pustaka.
Pertama Semboyan Pujangga Baru yaitu majalah kesusastraan
dan bahasa serta kebudayaan umum. Mulai tahun 1933 diubah menjadi “pembawa
semangat baru dalam kesusastraan dan bahasa seni, kebudayaan dan sosial
masyarakat umum”. Mulai tahun 1936 diubah lagi menjadi “Pembingbing semangat
baru yang dinamis untuk membentuk kebudayaan persatuan Indonesia.
Ciri-ciri dan hasil karya pada zaman pujangga baru
2.3.1 Ciri-ciri Sejarah sastra
pada periode 1930-1942
Ø
Bahasa yang di pergunakan sudah bahasa Indonesia
Ø
Yang berbau bahasa klise sudah ditinggalkan
Ø
Sastrawannya tersebar dari seluruh Nusantara
Ø
Tema ceritanya masalah yang lebih maju yaitu
:kehidupan kota, kehidupan kaum intelek, emansipasi.
Ø
Bentuk prosanya ialah roman dan novel
Ø
Bentuk puisinya ialah puisi baru, terutama
soneta yang paling disenangi
Ø
Mendapat pengaruh dari sastrawan Angkatan 80-an
dari Negeri Belanda
Ø
Bercorak Idealisme (Bahasa dan pilihan kata yang
bagus-bagus, bentuk, dan isi sama-sama dipentingkan.
2.3.2 Hasil karya dan pengarang
masa pujangga baru :
a. Bentuk
puisi diantaranya adalah :
1). Rindu Dendam karya YE Tatengkeng 1934
2). Tebaran Mega karya St Takdir Alisyahbana 1936
3). Nyanyi Sunyi karya Amir Hamzah 1937
4). Jiwa Berjiwa karya Armijn Pane 1939
5). Gamelan Jiwa karya Armijn Pane 1940
6). Buah Rindu karya Amir Hamzah 1942
b. Bentuk prosa diantaranya adalah :
1). Tak Putus Dirundung Malang
karya St Takdir Alisyahbana 1929
2). Diam Yang Tak Kunjung Padam
karya St Takdir Alisyahbana
3). Mencari Pencuri Anak Perawan
karya Suman Hasibuan 1932
4). Pertemuan Jodoh karya Abdul
Muis 1933
5). Kalau Tak Untung karya Selasih
1933
6). Kehilangan Mestika karya
Hamidah 1935
7). Bergelimang Dosa karya A
Dahmuri 1935
8). Layar Terkembang karya St Takdir
Alisyahbana 1936
9). Sukreni Gadis Bali karya INP
Tisna
10). Neraka Dunia karya Nur St
Iskandar 1937
11). Lenggang Kencana karya Armijn
Pane 1937
Tidak ada komentar:
Posting Komentar