Jumat, 28 November 2014

Sastra Periode 1933- 1942.

Perkembangan sejarah sastra pada periode 1933- 1942.
   Berdirinya pujangga baru membawa angin segar bagi para pengarang. Mreka lebih leluasa dan lebih bebas mengeluarkan pendapatnya, isi hati dan pikirannya yang sudah lama terpendam dalam benaknya.
Menurut angkatan ini kesusastraan selain berfungsi untuk melaksanakan atau menggambarkan tinggi rendahnya suatu bangsa, juga untuk mendorong bangsa tersebut ke arah yang lebih maju. Pengarang pujangga baru banyak dipengaruhi pujangga barat terutama Belanda. Sebab pengarang Indonesia banyak dididik oleh bangsa Belanda tersebut. Misalnya YE Tatengkeng sangat dipengaruhi oleh Belanda yaitu Ilem Kloos dan Jacques. YE Tatengkeng adalah penyair Indonesia yang religius yang dipengaruhi pujangga barat. Adapun HAMKA adalah pengarang prosa yang religius bernapaskan islam yang dipengaruhi pujangga Mesir yang bernapaskan islam yaitu Al Manfaluthfi. Sedangkan Sanusi Pane banyak dipengaruhi pujangga India sehingga ia disebut pengarang mistikus ketimuran. Amir Hamzah dijuluki raja penyair pujangga baru yang dipengaruhi pujangga islam serta adat istiadat melayu. St Takdir Alisyahbana dan Armijn Pane dipengaruhi Barat.
Walaupun berbeda paham dengan misi yang berbeda, tapi mereka satu tujuan yaitu ingin membangun kebudayaan Indonesia dan menerbitkan majalah pujangga baru. Pujangga baru didirikan mempunyai tujuan serta mempunyai sifat dalam sastranya.


Kejadian penting yang terjadi pada zaman pujangga baru
   Adanya pertemuan dengan bangsa Eropa, yang menghasilkan dan memberikan pengaruh kepada perkembangan politik, cara hidup, jalan pikiran, dan seni sastra. Lahirnya sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa resmi di sekolah-sekolah. Waktu itu bahasa Melayu digunakan oleh penduduk di Malayasia, Kep. Riau, Sumatra Timur, dan Kalimantan Barat.
Sifat kesusatraanya yang tadinya bertemakan kedaerahan sekarang meningkat menjadi bertemakan nasional (kebangsaan). Bentuk maupun isi karangannya berubah, bentuk puisi menghasilkan sajak ditikhon, quatrain, sektet, septima, oktaf dan soneta. Setiap karangan memperlihatkan gaya bahasa pengarangnya. Nama pengarangnya dibubuhkan pada hasil karangannya. Gaya bahasa dipengaruhi kesusastraan Belanda dan isi karangannya dalam bentuk prosa membahas tentang persamaan hak, kemajuan bangsa, pandangan hidup, cita-cita bangsa untuk mendapatkan kemerdekaan.
Menurut pendapat Drs. Iskandarwasid M.Pd, dkk bahwa kelahiran Pujangga Baru yang diterbitkan pada tahun 1933, namun pada tahun 1942 dihentikan penerbitannya karena dilarang oleh pemerintahan Jepang. Pada tahun 1949 terbit kembali sampai tahun1953, para pendirinya yaitu Armyn Pane, Amir Hamzah dan St Takdir Alisyahbana.
Dengan munculnya majalah tersebut menjadi suatu ciri betapa besarnya semangat dan keinginan pengarang muda Indonesia untuk memiliki medianya sendiri.
Sebelumnya sudah terbit beberapa majalah yang memuat tentang cerita, sajak, serta bahasan sastra diantaranya: majalah Sri Pustaka (1919-1942), Panji Pustaka (1919-1942), Jong Java (1920-1926), dan Timbul (1930-1933).
Majalah Timbul pertama terbit dalam bahasa Belanda. Mulai tahun 1932 terbit dalam bahasa Indonesia, redakturnya Sanusi Pane. Ketika St Takdir  Alisyahbana bekerja di Balai Pustaka beliau membuka rubrik menuju kesusastraan baru yaitudalam majalah Panji Pustaka mulai tahun 1932, dan diterbitkan oleh Balai Pustaka.
Pertama Semboyan Pujangga Baru yaitu majalah kesusastraan dan bahasa serta kebudayaan umum. Mulai tahun 1933 diubah menjadi “pembawa semangat baru dalam kesusastraan dan bahasa seni, kebudayaan dan sosial masyarakat umum”. Mulai tahun 1936 diubah lagi menjadi “Pembingbing semangat baru yang dinamis untuk membentuk kebudayaan persatuan Indonesia.

Ciri-ciri dan hasil karya pada zaman pujangga baru
2.3.1 Ciri-ciri Sejarah sastra pada periode 1930-1942
Ø  Bahasa yang di pergunakan sudah bahasa Indonesia
Ø  Yang berbau bahasa klise sudah ditinggalkan
Ø  Sastrawannya tersebar dari seluruh Nusantara
Ø  Tema ceritanya masalah yang lebih maju yaitu :kehidupan kota, kehidupan kaum intelek, emansipasi.
Ø  Bentuk prosanya ialah roman dan novel
Ø  Bentuk puisinya ialah puisi baru, terutama soneta yang paling disenangi
Ø  Mendapat pengaruh dari sastrawan Angkatan 80-an dari Negeri Belanda
Ø  Bercorak Idealisme (Bahasa dan pilihan kata yang bagus-bagus, bentuk, dan isi sama-sama dipentingkan.

2.3.2 Hasil karya dan pengarang masa pujangga baru :
a.       Bentuk puisi diantaranya adalah :
1). Rindu Dendam karya YE Tatengkeng 1934
2). Tebaran Mega karya St Takdir Alisyahbana 1936
3). Nyanyi Sunyi karya Amir Hamzah 1937
4). Jiwa Berjiwa karya Armijn Pane 1939
5). Gamelan Jiwa karya Armijn Pane 1940
6). Buah Rindu karya Amir Hamzah 1942

b. Bentuk prosa diantaranya adalah :
1). Tak Putus Dirundung Malang karya St Takdir Alisyahbana 1929
2). Diam Yang Tak Kunjung Padam karya St Takdir Alisyahbana
3). Mencari Pencuri Anak Perawan karya Suman Hasibuan 1932
4). Pertemuan Jodoh karya Abdul Muis 1933
5). Kalau Tak Untung karya Selasih 1933
6). Kehilangan Mestika karya Hamidah 1935
7). Bergelimang Dosa karya A Dahmuri 1935
8). Layar Terkembang karya St Takdir Alisyahbana 1936
9). Sukreni Gadis Bali karya INP Tisna
10). Neraka Dunia karya Nur St Iskandar 1937
11). Lenggang Kencana karya Armijn Pane 1937


Tidak ada komentar:

Posting Komentar