Jumat, 25 November 2016

PENGARUH KESANTUNAN BERBAHASA TERHADAP KELANCARAN PROSES BIMBINGAN SKRIPSI oleh Susi Susanti, kelas 3A, NIM 2108130095



Abstrak: Jurnal yang diberi judul Pengaruh Kesantunan Berbahasa Terhadap Kelancaran Bimbingan Skripsi ditulis dengan tujuan untuk memberikan informasi kepada pembaca bagaimana pentingnya kesantunan berbahasa ketika menghadapi dosen pembimbing skripsi. Ada beberapa faktor penentu kesantunan berbahasa yaitu:
faktor penentu kesantunan dalam bahasa verbal lisan, faktor penentu kesantunan dalam bahasa verbal tulis, dan faktor penentu kesantunan dalam aspek non kebahasaan. Melalui wawancara terhadap beberapa mahasiswa yang sedang dalam tahap proses bimbingan skripsi, bahwa kesantunan berbahasa sangat berpengaruh terhadap kelancaran proses bimbingan skripsi. Dalam jurnal ini juga dijelaskan definisi kesantunan, berbahasa, kesantunan berbahasa dan faktor penentu kesantunan berbahasa.
Kata kunci: kesantunan, berbahasa, kesantunan berbahasa, faktor penentu kesantunan berbahasa.


Abstract: journal who were given the title Influence Modesty of The Speaking To Smooth Guidance Thesis written for the purpose of giving information to the reader how important modesty of the speaking when faced with supervising lecturer thesis .There are several factors the best modesty of the speaking: factor modesty of the in language verbal oral , factor modesty of the in language verbal wrote , and factor modesty of the in the aspect of non language .By interviewing students who is on a stage process of guidance thesis , that modesty of the speaking good affect on the smooth process of guidance thesis .In this journal well described modesty of the definition , speaking , modesty of the speaking and factor modesty of the speaking.
Keyword: modesty of the , speaking , modesty of the speaking , factor modesty of the speaking.




Pendahuluan
            Komunikasi yang berlangsung setiap hari merupakan hal yang tidak bisa dipungkiri, sebuah komunikasi tentu memerlukan retorika yang baik. Selain retorika yang baik, tentunya harus diimbangi dengan kesantunan berbahasa yang baik. Bagaimana berbahasa dengan orang yang lebih tua, dengan orang yang seumuran bahkan dengan orang yang lebih muda. Indonesia merupakan negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, sehingga dalam berbahasa pun harus selalu memperhatikan nilai-nilai luhur budaya. Ketika nilai-nilai budaya diterapkan dalam berbahasa, maka bisa dikatakan seseorang tersebut berbahasa dengan santun.
Ada beberapa faktor penentu kesantunan berbahasa yaitu: Faktor  penentu kesantunan dalam bahasa verbal lisan, faktor penentu kesantunan dalam bahasa verbal tulis, dan faktor penentu kesantunan dalam aspek non kebahasaan. Kesantunan berbahasa dapat mempengaruhi kelancaran bimbingan skripsi, karena ketika mahasiswa menggunakan bahasa yang santun, seorang dosen akan merasa dihargai. Berbeda cerita dengan mahasiswa yang tidak memperhatikan kesantunan berbahasa ketika akan melakukan bimbingan skripsi, maka dosen akan merasa tidak dihargai sehingga proses bimbingan skripsi pun akan macet alias ditunda-tunda karena dosen tidak mood. Maka dari itu dalam jurnal ini saya akan membahas tentang “Pengaruh Kesantunan Berbahasa Terhadap Kelancaran Proses Bimbingan Skripsi.”

Pembahasan
Definisi kesantunan berbahasa akan dijelaskan satu persatu. Dalam   KBBI   edisi   ketiga (1990) dijelaskan  yang   dimaksud   dengan  kesantunan   adalah   kehalusan   dan   baik   (budi   bahasanya,   tingkah   lakunya).
Fraser dalam Gunarwan (1994) mendefinisikan kesantunan adalah “property associated with neither exceeded any right nor failed to fullfill any obligation”. Dengan kata lain kesantunan adalah properti yang diasosiasikan dengan ujaran dan di dalam hal ini menurut pendapat si pendengar, si penutur tidak melampaui hak-haknya atau tidak mengingkari memenuhi kewajibannya.
Beberapa ulasan Fraser mengenai definisi kesantunan tersebut yaitu pertama, kesantunan itu adalah properti atau bagian dari ujaran; jadi bukan ujaran itu sendiri. Kedua, pendapat pendengarlah yang menentukan apakah kesantunan itu ada pada suatu ujaran. Mungkin saja sebuah ujaran dimaksudkan sebagai ujaran yang santun oleh si penutur, tetapi di telinga si pendengar ujaran itu ternyata tidak terdengar santun, dan demikian pula sebaliknya. Ketiga, kesantunan itu dikaitkan dengan hak dan kewajiban penyerta interaksi. Artinya, apakah sebuah ujaran terdengar santun atau tidak, ini ”diukur” berdasarkan (1) apakah si penutur tidak melampaui haknya kepada lawan bicaranya dan (2) apakah si penutur memenuhi kewajibannya kepada lawan bicaranya itu.
Hildred Geertz dalam Franz Magnis-Suseno (2001:38) menyatakan bahwa ada dua kaidah yang paling menentukan pola pergaulan dalam masyarakat Jawa. Dua kaidah ini sangat erat hubungannya dengan kesantunan berbahasa. Kaidah pertama, bahwa dalam setiap situasi manusia hendaknya bersikap sedemikian rupa hingga tidak sampai menimbulkan konflik. Franz menyebut kaidah ini sebagai prinsip kerukunan. Kaidah kedua, menuntut agar manusia dalam cara bicara dan membawa diri selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain, sesuai dengan derajat dan kedudukannya. Franz menyebut kaidah kedua ini sebagai prinsip hormat.
Menurut Mulder (1973), keadaan rukun terdapat dimana semua pihak berada dalam keadaan damai satu sama lain, suka bekerja sama, saling menerima, dalam suasana tenang dan sepakat. Pendapat Mulder ini diperkuat oleh pernyataan Hildred Geertz (1967) bahwa berlaku rukun berarti menghilangkan tanda-tanda ketegangan dalam masyarakat atau antara pribadi-pribadi sebagai hubungan-hubungan sosial tetap kelihatan selaras dan baik-baik. Dalam kaitannya dengan prinsip hormat, Hildred Geertz menjelaskan ada tiga perasaan yang harus dimiliki masyarakat Jawa dalam berkomunikasi dengan tujuan untuk menciptakan situasi-situasi yang menuntut sikap hormat, yaitu wedi (takut), isin (malu), dan sungkan. Ketiga hal tersebut merupakan suatu kesinambungan perasaan-perasaan yang mempunyai fungsi sosial untuk memberi dukungan psikologis terhadap tuntutan-tuntutan prinsip hormat. Dengan demikian individu merasa terdorong untuk selalu mengambil sikap hormat, sedangkan kelakuan yang kurang hormat menimbulkan rasa tak enak (Franz, 2001: 65).
 Kesantunan juga bisa disebut dengan tatakrama yang sering dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat, baik dalam lingkungan masyarakat yang sebenarnya, lingkungan sekolah ataupun lingkungan kampus. Kesantunan yang berlaku dalam masyarakat berbeda-beda sesuai dengan adat dan budaya kelompok masyarakat tersebut. Sedangkan berbahasa merupakan proses menyampaikan informasi. Jadi kesantunan berbahasa merupakan hal memperlihatkan kesadaran akan martabat orang lain serta sikap atau perilaku yang baik dalam berbahasa baik saat menggunakan bahasa lisan maupun bahasa tulis.
            Ada beberapa faktor penentu kesantunan yang pertama penentu kesantunan dalam bahasa verbal lisan antara lain intonasi (keras lembutnya intonasi ketika seseorang berbicara), nada bicara ( berkaitan dengan suasana emosi penutur: nada resmi, nada bercanda atau bergurau, nada mengejek, nada menyindir), dan faktor pilihan kata.
Intonasi merupakan keras lembutnya suara yang diujarkan oleh penutur terhadap mitra tutur, ketika seorang penutur berbahasa dengan intonasi yang keras pada mitra tutur padahal jarak antara penutur dan mitra tutur sangat dekat dan mitra tutur tidak mempunyai gangguan pendengaran maka penutur tersebut bisa dikatakan tidak santun. Namun lain halnya ketika penutur adalah orang batak yang sudah terbiasa dengan budaya bertuturnya yang tinggi, tidak bisa dikatakan bahwa penutur tersebut tidak santun karena lembutnya intonasi orang Jawa dengan orang Batak berbeda. Namun, jika penutur bisa menyesuaikan dengan budaya yang ada pada lingkungan tersebut lebih baik penutur menyesuaikan saja agar tercipta hubungan komunikasi berbahasa yang baik antara penutur dengan mitra tutur. Misalnya seorang mahasiswa yang akan melakukan bimbingan skripsi kepada dosen pembimbingnya yang kebetulan dosen pembimbing tersebut adalah orang Jawa maka mahasiswa tersebut harus berbahasa yang baik dengan menggunakan intonasi yang lebih rendah ketika bertutur dengan dosen, baik dosen itu usianya lebih muda atau lebih tua, karena dalam hal ini yang dilihat adalah jabatannya. Dilihat dari jabatannya mahasiswa lebih rendah jabatan akademiknya dibandingkan dengan dosen. Ketika mahasiswa bertutur dengan nada tinggi, seorang dosen bisa saja menilai bahwa mahasiswa tersebut membentaknya sehingga dapat menyinggung perasaan dosen pembimbing yang dapat mengakibatkan penundaan bimbingan skripsi.
            Selain intonasi ada juga yang harus diperhatikan ketika akan bimbingan skripsi dengan dosen, yaitu nada bicara. Nada bicara ketika berujar sangat mempengaruhi kesantunan berbahasa seseorang. Nada  merupakan naik turunnya ujaran yang menggambarkan bagaimana suasana emosi penutur terhadap mitra tuturnya. Tidak dapat dipungkiri, ketika suasana hati penutur sedang sedih maka nada bicaranya berbeda dengan penutur yang sedang bahagia, namun setidaknya seorang penutur dapat sedikit menyembunyikan apa yang sebenarnya ia rasakan dan dapat menyesuaikan dengan keadaan atau situasi yang sedang dihadapi. Nada bicara dibagi menjadi beberapa jenis, seperti: Nada resmi, nada bercanda atau bergurau, nada mengejek, nada menyindir, dll. Seorang penutur harus pandai menyesuaikan diri ketika berbicara dengan mitra tutur. Ketika situasi mengharuskan untuk berbicara resmi, maka penutur harus menggunakan nada bicara yang resmi. Contohnya ketika seorang mahasiswa meminta untuk bimbingan skripsi kepada seorang dosen dengan nada bicara bergurau, apakah dosen tersebut akan melayaninya? Tentu tidak. Maka dari itu, ketika mahasiswa meminta untuk bimbingan skripsi harus menggunakan nada bicara yang resmi dan santun. Mengapa harus diimbangi dengan sikap santun? Karena kesantunan merupakan modal utama untuk meluluhkan hati seseorang yangdalam hal ini adalah dosen, sehingga mereka merasa lebih dihargai.
            Selanjutnya pilihan kata juga termasuk faktor penentu kesantunan dalam berbahasa lisan ataupun dalam bahasa tulis. Dalam berkomunikasi tentunya ada kata-kata yang diujarkan. Tidak asal mengeluarkan kata-kata, tapi ada pemilihan kata untuk  diujarkan agar sesuai dengan yang sedang dibicarakan, bukan hanya menyesuaikan dengan yang sedang dibicarakan saja namun, disesuaikan juga dengan siapa kita berbicara. Ketika mahasiswa berbicara dengan dosen tidak elok jika mahasiswa memanggil dosen dengan sebutan “Loe”, berbeda halnya ketika mahasiswa berbicara dengan mahasiswa, boleh-boleh saja memanggil sebutan “Loe” . Lalu apa hubungannya pemilihan kata dengan kelancaran bimbingan skripsi? Ketika mahasiswa pandai memilih kata-kata dalam proses bimbingan, maka akan cepat nyambung apa yang disarankan oleh dosen pembimbing dan dalam penyusunan skripsi pun akan lebih lancar, sehingga tidak akan terlalu banyak revisi yang harus dilakukan.
            Faktor penentu kesantunan yang kedua yaitu faktor kesantunan dalam berbahasa tulis. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kesantunan berbahasa juga harus dipakai ketika mengirimkan sebuah SMS kepada dosen, jangan sampai SMS yang kita kirimkan membuat dosen merasa tidak dihargai atau terkesan merendahkan derajat dosen tersebut. Saya ambil sebuah contoh SMS mahasiswa yang ingin bimbingan skripsi, namun SMS tersebut kurang santun: Assalamu’alaikum, maaf pak, nanti saya mau bimbingan pukul 10.00. Bapak ada di ruang dosen apa tidak? SMS seperti itu mungkin sudah terlihat santun menurut mahasiswa, namun untuk beberapa dosen mengatakan bahwa SMS itu kurang santun karena SMS itu seperti mahasiswa yang mengatur jam terbang dosen, padahal dalam hal ini dosen memiliki jam terbang lebih banyak yang tidak bisa seenaknya diatur oleh mahasiswa. SMS yang seharusnya ditulis yaitu: Assalamu’alaikum,mohon maaf pak, kiranya nanti pukul 10.00 Bapak ada waktu luang atau tidak? Kalau Bapak ada waktu luang, saya ingin bimbingan skripsi. Kiranya Bapak bisa atau tidak? SMS ini lebih merendah dan tidak seperti mengatur jam terbang dosen, karena mahassiswa menanyakan waktu luang dosennya kapan, yang kiranya mahasiswa tersebut bisa melakukan bimbingan skripsi dengan dosen pembimbingnya tersebut.
            Bukan hanya faktor kebahasaan saja yang mempengaruhi kesantunan berbahasa. Ada aspek non kebahasaan yang mempengaruhi kesantunan berbahasa seperti: gerak-gerik anggota tubuh, kerlingan mata, gelengan kepala, acungan tangan, kepalan tangan, tangan berkacak pinggang, dan sebagainya. Hasil wawancara saya dengan beberapa mahasiswa yang sedang dalam tahap proses bimbingan skripsi, ketika akan menemui dosen pembimbing skripsi, seorang mahasiswa harus bersikap santun salah satunya mengucapkan salam terlebih dahulu ketika akan masuk ruangan dosen pembimbing, pasang wajah yang ramah dan sedikit merengkuh (membungkukkan badan) agar tidak terkesan sombong. Merengkuh  ini merupakan salah satu contoh sikap santun non kebahasaan yang biasa dilakukan oleh orang sunda dan sudah menjadi budaya orang-orang suku sunda.
            Tidak bisa dipungkiri ketika  berkomnunikasi, penutur dan mitra tutur ingin saling dihargai. Namun, ketika kita adalah seorang mahasiswa yang sudah jelas status pendidikan ataupun jabatannya lebih rendah dari seorang dosen, maka kita harus bisa menghargai dosen dan bersikap rendah hati. Karena banyak dosen yang ingin dihargai, tidak mau dianggap ilmunya setara dengan mahasiswa. Sudah dikenal pula dikalangan mahasiswa bahma “Dosen Tidak Pernah Salah.” Ketika seorang mahasiswa yang sedang proses bimbingan skripsi, harus mengikuti apa yang dosen instruksikan. Dosen mengatakan skripsi harus direvisi, maka lakukanlah jangan egois, merasa skripsi yang dikerjakan sudah benar, bisa saja ketika seorang mahasiswa teguh pada argumennya sendiri, dosen pembimbing menjadi malas untuk membimbing pengerjaan skripsi Anda. Akhirnya yang rugi Anda juga kan?

Simpulan dan Saran
            Simpulan dari haril pembahasan yang penulis lakukan yaitu kesantunan berbahasa sangat berpengaruh terhadap kelancaran proses bimbingan skripsi, karena pada dasarnya seorang dosen lebih menghargai dan memprioritaskan mahasiswa yang mempunyai kesantunan berbahasa yang baik ketika meminta untuk bimbingan skripsi terhadap dosen yang bersangkutan. Ada beberapa faktor yang menentukan kesantunan yaitu Faktor  penentu kesantunan dalam bahasa verbal lisan, faktor penentu kesantunan dalam bahasa verbal tulis, dan faktor penentu kesantunan dalam aspek non kebahasaan. Ketiga faktor penentu kesantunan tesebut sama-sama berpengaruh terhadap kelancaran proses bimbingan skripsi, setidaknya dosen akan lebih memprioritaskan mahasiswa yang memperhatikan 3 faktor penentu kesantunan yang telah disebutkan sebelumnya. Berbeda dengan mahasiswa yang tidak menerapkan kesantunan berbahasa dalam berkomunikasi dengan dosen pembimbing maka tidak heran ketika dosen pembimbing merasa Il Feel atau tidak mood  untuk membimbing skripsi mahasiswa tersebut. Oleh karena itu penulis memberikan saran kepada mahasiswa yang sedang dalam proses bimbingan skripsi, terapkanlah kesantunan berbahasa ketika menulis SMS kepada dosen ataupun ketika berkomunikasi langsung dengan dosen agar proses bimingan skripsi Anda dilancarkan oleh dosem pembimbingng Anda. Selamatmenempuh bimbingan skripsi.
           




















Daftar Pustaka

Anonim. File Pdf UNY. Diakses pada tanggal 20 Desember 2015.

Anonim. Skripsi Kesantunan Berbahasa. Diakses pada tanggal 12 Januari 2016.

Fajri, Mohamad. 2013. Bahasa dan Berbahasa. Diakses pada tanggal 12 Januari 2016.
Sederet.com


Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa.












Riwayat Hidup Penulis

            Susi Susanti, lahir di Cilacap, 16 Oktober 1994. SMA Negeri 1 Majenang (2013).. Kuliah di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Galuh Ciamis. Bergiat di UKM LDKRM, Teater Tangtu Tilu dan Forum Aktif Menulis. Hobi menulis karya fiksi yang berupa cerpen ataupun puisi.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar