Abstrak: Jurnal yang diberi
judul Pengaruh Kesantunan Berbahasa
Terhadap Kelancaran Bimbingan Skripsi ditulis dengan tujuan untuk
memberikan informasi kepada pembaca bagaimana pentingnya kesantunan berbahasa
ketika menghadapi dosen pembimbing skripsi. Ada beberapa faktor penentu
kesantunan berbahasa yaitu:
faktor penentu kesantunan dalam bahasa verbal
lisan, faktor penentu kesantunan dalam bahasa verbal tulis, dan faktor penentu
kesantunan dalam aspek non kebahasaan. Melalui wawancara terhadap beberapa
mahasiswa yang sedang dalam tahap proses bimbingan skripsi, bahwa kesantunan
berbahasa sangat berpengaruh terhadap kelancaran proses bimbingan skripsi.
Dalam jurnal ini juga dijelaskan definisi kesantunan, berbahasa, kesantunan
berbahasa dan faktor penentu kesantunan berbahasa.
Kata
kunci: kesantunan, berbahasa, kesantunan berbahasa, faktor penentu kesantunan
berbahasa.
Abstract: journal who were
given the title Influence Modesty of The
Speaking To Smooth Guidance Thesis written for the purpose of giving
information to the reader how important modesty of the speaking when faced with
supervising lecturer thesis .There are several factors the best modesty of the
speaking: factor modesty of the in language verbal oral , factor modesty of the
in language verbal wrote , and factor modesty of the in the aspect of non language
.By interviewing students who is on a stage process of guidance thesis , that
modesty of the speaking good affect on the smooth process of guidance thesis
.In this journal well described modesty of the definition , speaking , modesty
of the speaking and factor modesty of the speaking.
Keyword:
modesty of the , speaking , modesty of the speaking , factor modesty of the
speaking.
Pendahuluan
Komunikasi yang berlangsung setiap
hari merupakan hal yang tidak bisa dipungkiri, sebuah komunikasi tentu
memerlukan retorika yang baik. Selain retorika yang baik, tentunya harus
diimbangi dengan kesantunan berbahasa yang baik. Bagaimana berbahasa dengan orang
yang lebih tua, dengan orang yang seumuran bahkan dengan orang yang lebih muda.
Indonesia merupakan negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, sehingga
dalam berbahasa pun harus selalu memperhatikan nilai-nilai luhur budaya. Ketika
nilai-nilai budaya diterapkan dalam berbahasa, maka bisa dikatakan seseorang tersebut
berbahasa dengan santun.
Ada
beberapa faktor penentu kesantunan berbahasa yaitu: Faktor penentu kesantunan dalam bahasa verbal lisan,
faktor penentu kesantunan dalam bahasa verbal tulis, dan faktor penentu
kesantunan dalam aspek non kebahasaan. Kesantunan berbahasa dapat mempengaruhi
kelancaran bimbingan skripsi, karena ketika mahasiswa menggunakan bahasa yang
santun, seorang dosen akan merasa dihargai. Berbeda cerita dengan mahasiswa
yang tidak memperhatikan kesantunan berbahasa ketika akan melakukan bimbingan
skripsi, maka dosen akan merasa tidak dihargai sehingga proses bimbingan
skripsi pun akan macet alias ditunda-tunda karena dosen tidak mood. Maka dari itu dalam jurnal ini
saya akan membahas tentang “Pengaruh Kesantunan Berbahasa Terhadap Kelancaran
Proses Bimbingan Skripsi.”
Pembahasan
Definisi
kesantunan berbahasa akan dijelaskan satu persatu. Dalam KBBI
edisi ketiga (1990)
dijelaskan yang dimaksud
dengan kesantunan adalah
kehalusan dan baik
(budi bahasanya, tingkah
lakunya).
Fraser
dalam Gunarwan (1994) mendefinisikan kesantunan adalah “property associated
with neither exceeded any right nor failed to fullfill any obligation”. Dengan
kata lain kesantunan adalah properti yang diasosiasikan dengan ujaran dan di dalam
hal ini menurut pendapat si pendengar, si penutur tidak melampaui hak-haknya
atau tidak mengingkari memenuhi kewajibannya.
Beberapa
ulasan Fraser mengenai definisi kesantunan tersebut yaitu pertama, kesantunan
itu adalah properti atau bagian dari ujaran; jadi bukan ujaran itu sendiri.
Kedua, pendapat pendengarlah yang menentukan apakah kesantunan itu ada pada
suatu ujaran. Mungkin saja sebuah ujaran dimaksudkan sebagai ujaran yang santun
oleh si penutur, tetapi di telinga si pendengar ujaran itu ternyata tidak
terdengar santun, dan demikian pula sebaliknya. Ketiga, kesantunan itu
dikaitkan dengan hak dan kewajiban penyerta interaksi. Artinya, apakah sebuah
ujaran terdengar santun atau tidak, ini ”diukur” berdasarkan (1) apakah si
penutur tidak melampaui haknya kepada lawan bicaranya dan (2) apakah si penutur
memenuhi kewajibannya kepada lawan bicaranya itu.
Hildred
Geertz dalam Franz Magnis-Suseno (2001:38) menyatakan bahwa ada dua kaidah yang
paling menentukan pola pergaulan dalam masyarakat Jawa. Dua kaidah ini sangat
erat hubungannya dengan kesantunan berbahasa. Kaidah pertama, bahwa dalam
setiap situasi manusia hendaknya bersikap sedemikian rupa hingga tidak sampai
menimbulkan konflik. Franz menyebut kaidah ini sebagai prinsip kerukunan.
Kaidah kedua, menuntut agar manusia dalam cara bicara dan membawa diri selalu menunjukkan
sikap hormat terhadap orang lain, sesuai dengan derajat dan kedudukannya. Franz
menyebut kaidah kedua ini sebagai prinsip hormat.
Menurut
Mulder (1973), keadaan rukun terdapat dimana semua pihak berada dalam keadaan
damai satu sama lain, suka bekerja sama, saling menerima, dalam suasana tenang
dan sepakat. Pendapat Mulder ini diperkuat oleh pernyataan Hildred Geertz
(1967) bahwa berlaku rukun berarti menghilangkan tanda-tanda ketegangan dalam
masyarakat atau antara pribadi-pribadi sebagai hubungan-hubungan sosial tetap
kelihatan selaras dan baik-baik. Dalam kaitannya dengan prinsip hormat, Hildred
Geertz menjelaskan ada tiga perasaan yang harus dimiliki masyarakat Jawa dalam
berkomunikasi dengan tujuan untuk menciptakan situasi-situasi yang menuntut
sikap hormat, yaitu wedi (takut), isin (malu), dan sungkan. Ketiga hal tersebut
merupakan suatu kesinambungan perasaan-perasaan yang mempunyai fungsi sosial
untuk memberi dukungan psikologis terhadap tuntutan-tuntutan prinsip hormat.
Dengan demikian individu merasa terdorong untuk selalu mengambil sikap hormat,
sedangkan kelakuan yang kurang hormat menimbulkan rasa tak enak (Franz, 2001:
65).
Kesantunan juga bisa disebut dengan tatakrama
yang sering dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat, baik dalam lingkungan
masyarakat yang sebenarnya, lingkungan sekolah ataupun lingkungan kampus.
Kesantunan yang berlaku dalam masyarakat berbeda-beda sesuai dengan adat dan
budaya kelompok masyarakat tersebut. Sedangkan berbahasa merupakan proses
menyampaikan informasi. Jadi kesantunan berbahasa merupakan hal memperlihatkan
kesadaran akan martabat orang lain serta sikap atau perilaku yang baik dalam
berbahasa baik saat menggunakan bahasa lisan maupun bahasa tulis.
Ada beberapa faktor penentu
kesantunan yang pertama penentu kesantunan dalam bahasa verbal lisan antara
lain intonasi (keras lembutnya intonasi ketika seseorang berbicara), nada
bicara ( berkaitan dengan suasana emosi penutur: nada resmi, nada bercanda atau
bergurau, nada mengejek, nada menyindir), dan faktor pilihan kata.
Intonasi
merupakan keras lembutnya suara yang diujarkan oleh penutur terhadap mitra
tutur, ketika seorang penutur berbahasa dengan intonasi yang keras pada mitra
tutur padahal jarak antara penutur dan mitra tutur sangat dekat dan mitra tutur
tidak mempunyai gangguan pendengaran maka penutur tersebut bisa dikatakan tidak
santun. Namun lain halnya ketika penutur adalah orang batak yang sudah terbiasa
dengan budaya bertuturnya yang tinggi, tidak bisa dikatakan bahwa penutur
tersebut tidak santun karena lembutnya intonasi orang Jawa dengan orang Batak
berbeda. Namun, jika penutur bisa menyesuaikan dengan budaya yang ada pada
lingkungan tersebut lebih baik penutur menyesuaikan saja agar tercipta hubungan
komunikasi berbahasa yang baik antara penutur dengan mitra tutur. Misalnya
seorang mahasiswa yang akan melakukan bimbingan skripsi kepada dosen
pembimbingnya yang kebetulan dosen pembimbing tersebut adalah orang Jawa maka
mahasiswa tersebut harus berbahasa yang baik dengan menggunakan intonasi yang lebih
rendah ketika bertutur dengan dosen, baik dosen itu usianya lebih muda atau
lebih tua, karena dalam hal ini yang dilihat adalah jabatannya. Dilihat dari
jabatannya mahasiswa lebih rendah jabatan akademiknya dibandingkan dengan
dosen. Ketika mahasiswa bertutur dengan nada tinggi, seorang dosen bisa saja
menilai bahwa mahasiswa tersebut membentaknya sehingga dapat menyinggung
perasaan dosen pembimbing yang dapat mengakibatkan penundaan bimbingan skripsi.
Selain intonasi ada juga yang harus
diperhatikan ketika akan bimbingan skripsi dengan dosen, yaitu nada bicara.
Nada bicara ketika berujar sangat mempengaruhi kesantunan berbahasa seseorang.
Nada merupakan naik turunnya ujaran yang
menggambarkan bagaimana suasana emosi penutur terhadap mitra tuturnya. Tidak
dapat dipungkiri, ketika suasana hati penutur sedang sedih maka nada bicaranya
berbeda dengan penutur yang sedang bahagia, namun setidaknya seorang penutur
dapat sedikit menyembunyikan apa yang sebenarnya ia rasakan dan dapat
menyesuaikan dengan keadaan atau situasi yang sedang dihadapi. Nada bicara
dibagi menjadi beberapa jenis, seperti: Nada resmi, nada bercanda atau
bergurau, nada mengejek, nada menyindir, dll. Seorang penutur harus pandai
menyesuaikan diri ketika berbicara dengan mitra tutur. Ketika situasi
mengharuskan untuk berbicara resmi, maka penutur harus menggunakan nada bicara
yang resmi. Contohnya ketika seorang mahasiswa meminta untuk bimbingan skripsi
kepada seorang dosen dengan nada bicara bergurau, apakah dosen tersebut akan
melayaninya? Tentu tidak. Maka dari itu, ketika mahasiswa meminta untuk
bimbingan skripsi harus menggunakan nada bicara yang resmi dan santun. Mengapa
harus diimbangi dengan sikap santun? Karena kesantunan merupakan modal utama untuk
meluluhkan hati seseorang yangdalam hal ini adalah dosen, sehingga mereka
merasa lebih dihargai.
Selanjutnya pilihan kata juga
termasuk faktor penentu kesantunan dalam berbahasa lisan ataupun dalam bahasa
tulis. Dalam berkomunikasi tentunya ada kata-kata yang diujarkan. Tidak asal
mengeluarkan kata-kata, tapi ada pemilihan kata untuk diujarkan agar sesuai dengan yang sedang
dibicarakan, bukan hanya menyesuaikan dengan yang sedang dibicarakan saja
namun, disesuaikan juga dengan siapa kita berbicara. Ketika mahasiswa berbicara
dengan dosen tidak elok jika mahasiswa memanggil dosen dengan sebutan “Loe”,
berbeda halnya ketika mahasiswa berbicara dengan mahasiswa, boleh-boleh saja
memanggil sebutan “Loe” . Lalu apa hubungannya pemilihan kata dengan kelancaran
bimbingan skripsi? Ketika mahasiswa pandai memilih kata-kata dalam proses
bimbingan, maka akan cepat nyambung apa yang disarankan oleh dosen pembimbing
dan dalam penyusunan skripsi pun akan lebih lancar, sehingga tidak akan terlalu
banyak revisi yang harus dilakukan.
Faktor penentu kesantunan yang kedua
yaitu faktor kesantunan dalam berbahasa tulis. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa
kesantunan berbahasa juga harus dipakai ketika mengirimkan sebuah SMS kepada
dosen, jangan sampai SMS yang kita kirimkan membuat dosen merasa tidak dihargai
atau terkesan merendahkan derajat dosen tersebut. Saya ambil sebuah contoh SMS
mahasiswa yang ingin bimbingan skripsi, namun SMS tersebut kurang santun: Assalamu’alaikum, maaf pak, nanti saya mau
bimbingan pukul 10.00. Bapak ada di ruang dosen apa tidak? SMS seperti itu
mungkin sudah terlihat santun menurut mahasiswa, namun untuk beberapa dosen
mengatakan bahwa SMS itu kurang santun karena SMS itu seperti mahasiswa yang
mengatur jam terbang dosen, padahal dalam hal ini dosen memiliki jam terbang
lebih banyak yang tidak bisa seenaknya diatur oleh mahasiswa. SMS yang
seharusnya ditulis yaitu: Assalamu’alaikum,mohon
maaf pak, kiranya nanti pukul 10.00 Bapak ada waktu luang atau tidak? Kalau
Bapak ada waktu luang, saya ingin bimbingan skripsi. Kiranya Bapak bisa atau
tidak? SMS ini lebih merendah dan tidak seperti mengatur jam terbang dosen,
karena mahassiswa menanyakan waktu luang dosennya kapan, yang kiranya mahasiswa
tersebut bisa melakukan bimbingan skripsi dengan dosen pembimbingnya tersebut.
Bukan hanya faktor kebahasaan saja
yang mempengaruhi kesantunan berbahasa. Ada aspek non kebahasaan yang
mempengaruhi kesantunan berbahasa seperti: gerak-gerik anggota tubuh, kerlingan
mata, gelengan kepala, acungan tangan, kepalan tangan, tangan berkacak
pinggang, dan sebagainya. Hasil wawancara saya dengan beberapa mahasiswa yang
sedang dalam tahap proses bimbingan skripsi, ketika akan menemui dosen
pembimbing skripsi, seorang mahasiswa harus bersikap santun salah satunya
mengucapkan salam terlebih dahulu ketika akan masuk ruangan dosen pembimbing,
pasang wajah yang ramah dan sedikit merengkuh
(membungkukkan badan) agar tidak terkesan sombong. Merengkuh ini merupakan
salah satu contoh sikap santun non kebahasaan yang biasa dilakukan oleh orang
sunda dan sudah menjadi budaya orang-orang suku sunda.
Tidak bisa dipungkiri ketika berkomnunikasi, penutur dan mitra tutur ingin
saling dihargai. Namun, ketika kita adalah seorang mahasiswa yang sudah jelas
status pendidikan ataupun jabatannya lebih rendah dari seorang dosen, maka kita
harus bisa menghargai dosen dan bersikap rendah hati. Karena banyak dosen yang
ingin dihargai, tidak mau dianggap ilmunya setara dengan mahasiswa. Sudah
dikenal pula dikalangan mahasiswa bahma “Dosen Tidak Pernah Salah.” Ketika
seorang mahasiswa yang sedang proses bimbingan skripsi, harus mengikuti apa
yang dosen instruksikan. Dosen mengatakan skripsi harus direvisi, maka
lakukanlah jangan egois, merasa skripsi yang dikerjakan sudah benar, bisa saja
ketika seorang mahasiswa teguh pada argumennya sendiri, dosen pembimbing
menjadi malas untuk membimbing pengerjaan skripsi Anda. Akhirnya yang rugi Anda
juga kan?
Simpulan dan Saran
Simpulan dari
haril pembahasan yang penulis lakukan yaitu kesantunan berbahasa sangat
berpengaruh terhadap kelancaran proses bimbingan skripsi, karena pada dasarnya
seorang dosen lebih menghargai dan memprioritaskan mahasiswa yang mempunyai
kesantunan berbahasa yang baik ketika meminta untuk bimbingan skripsi terhadap
dosen yang bersangkutan. Ada beberapa faktor yang menentukan kesantunan yaitu Faktor penentu kesantunan dalam bahasa verbal lisan,
faktor penentu kesantunan dalam bahasa verbal tulis, dan faktor penentu
kesantunan dalam aspek non kebahasaan. Ketiga faktor penentu kesantunan tesebut
sama-sama berpengaruh terhadap kelancaran proses bimbingan skripsi, setidaknya
dosen akan lebih memprioritaskan mahasiswa yang memperhatikan 3 faktor penentu
kesantunan yang telah disebutkan sebelumnya. Berbeda dengan mahasiswa yang
tidak menerapkan kesantunan berbahasa dalam berkomunikasi dengan dosen
pembimbing maka tidak heran ketika dosen pembimbing merasa Il Feel atau tidak mood untuk membimbing skripsi mahasiswa tersebut.
Oleh karena itu penulis memberikan saran kepada mahasiswa yang sedang dalam
proses bimbingan skripsi, terapkanlah kesantunan berbahasa ketika menulis SMS
kepada dosen ataupun ketika berkomunikasi langsung dengan dosen agar proses
bimingan skripsi Anda dilancarkan oleh dosem pembimbingng Anda. Selamatmenempuh
bimbingan skripsi.
Daftar Pustaka
Anonim.
File Pdf UNY. Diakses pada tanggal 20 Desember 2015.
Anonim. Skripsi Kesantunan Berbahasa. Diakses
pada tanggal 12 Januari 2016.
Fajri,
Mohamad. 2013. Bahasa dan Berbahasa.
Diakses pada tanggal 12 Januari 2016.
Sederet.com
Tarigan,
Henry Guntur. 2009. Pengajaran Pragmatik.
Bandung: Angkasa.
Riwayat Hidup Penulis
Susi Susanti, lahir di Cilacap, 16
Oktober 1994. SMA Negeri 1 Majenang (2013).. Kuliah di Program Studi Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Galuh Ciamis. Bergiat di UKM LDKRM,
Teater Tangtu Tilu dan Forum Aktif Menulis. Hobi menulis karya fiksi yang
berupa cerpen ataupun puisi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar