Gue
adalah mahasiswi di salah satu kampus yang berada di Ciamis, Jawa Barat. Gue
mahasiswi yang aktif diberbagai organisasi, antara lain Karate, Teater,
Himpunan Mahasiswa (HIMA), dan Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Banyak banget ya?
Maklum gue sedang mencari jati diri, iya
jati diri. Gue tidak tau bakat gue apa, jadi gue ikut banyak organisasi deh.
Eh, ternyata banyak organisasi bikin gue bingung dengan jati diri gue, kalau
dipikir-pikir gue ini seperti bunglon, berbeda tempat yang ia hinggapi berbeda
pula warna tubuhnya, seperti halnya gue. Saat gue bergabung dengan teman-teman
karate, gue harus menggunakan baju karate dan berlaga seperti cewek tomboy yang
bisa berkelahi, saat bergabung dengan teman-teman teater gue harus seperti
seniman-seniman yang berpakaian serba WOW, pakai celana pensil (celana jeans
ketat) terkadang tidak memakai hijab, begitupula dengan teman-teman HIMA yang
berpakaian modis-modis, gue juga terbawa modis, dan saat gue bergabung dengan
teman-teman LDK, pakaian yang gue
gunakanpun berubah yaitu memakai rok panjang, baju panjang dan berhijab,
ya meskipun hijab yang gue gunakan masih kalah besarnya dengan hijab-hijab yang
digunakan oleh teman-teman LDK lainnya. Kalau gue mengubah penampilan seperti
mereka, apa kata teman-teman kampus? Bisa-bisa gue diledek ibu-ibu pengajian (ngga
banget deh). Namun, anehnya teman-teman LDK tak pernah memaksa gue untuk
mengikuti apa yang mereka pakai (Hijab besar, baju gamis, kaos kaki, manset)
dan mereka tak pernah memandang gue sebelah mata, heran juga sih padahal gue kan
berbeda dengan mereka, ilmu agama gue masih sangat sedikit (bisa dibilang masih
awam) . Gue sadar akan hal itu namun gue belum ada niat untuk berubah seperti
mereka, gue kan bukan power ranger yang bisa berubah secepat kilat (gx lucu ya?),
terus kalau begitu kapan gue taubat? Entahlah...gue masih nyaman dengan
kehidupan gue yang seperti bunglon ini.
**
Suatu ketika di kampus gue ada competition dance yang diselenggarakan
oleh BEM FISIP, nah gue ikutan tuh competition
dance . Saat acara competition dance berlangsung,
gue memakai kostum serba mini (celana pendek, baju pendek, dan tak berhijab). Jujur
gue pakai pakaian seperti itu di depan umum baru kali itu. Demi kekompakan
kostum kelompok dance gue, yang kata mereka pakaian seperti itu adalah hal yang
lumrah dalam kompetisi dance, ya gue nurut aja, demi hobi gue (dance) kenapa tidak?.
“Astagfirulloh, ukhty, kenapa berpakaian
seperti itu, kenapa tak berhijab?” Seorang pemuda
mengagetkanku.
“Kenapa? Masalah buat loe?”.
“Wajib bagi perempuan menutup auratnya,
itu aurat ukhty. Sehelai rambutpun tak boleh
terlihat oleh yang bukan muhrimnya, jika rambut perempuan terlihat oleh yang bukan muhrimnya maka kamu akan
disiksa di akhirat, Taubat ukhty!”
“Sudahlah, ini hidup gue, gx usah atur-atur hidup gue.”
Pemuda itupun hengkang melenggang,
tanpa memperdulikan apa yang gue katakan, kenapa dia repot nasihatin gue, dia
bukan siapa-siapa gue. Gue aja gx ribet dengan hidup gue, gue happy dengan hidup gue. Kalau masalah
taubat nanti saja lah, gue masih muda, masih lama gue hidup di dunia. Kalau
sudah tua baru gue taubat.
Tiba-tiba... Cling, (suara hp gue
bunyi) menandakan SMS masuk, saat gue buka SMS, ternyata SMS itu mengabarkan
bahwa sahabat gue meninggal. Air matapun menetes hingga membasahi Hp yang gue
pegang. Gue baru sadar ternyata maut itu tidak hanya datang pada orang yang
sudah tua saja, sahabat gue yang umurnya masih muda sudah meninggal. Sejenak
gue terdiam dan merenung. Amal baik apa yang akan mengantarkan gue ke surga?
Berpakaian saja belum syar’i. Bagaimana gue bisa masuk surga?.
**
Kematian sahabat gue seolah
menyadarkan gue agar menjalani hidup dengan sebaik-baiknya, karena kita tidak
tahu kapan kita akan mati. Mulai saat itu gue sering mengikuti kajian-kajian
islami dan mencoba menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Suatu ketika gue
mengikuti kajian yang bertemakan “Apa
Itu Gaul?”, pemateri itu berhijab besar, tapi tetap cantik, jauh banget deh
sama ibu-ibu pengajian yang sering dianggap kampungan oleh anak-anak remaja
zaman sekarang (pokoknya enak dipandang). Dan ada hal yang membuat gue malu
yaitu sepenggal kalimat yang ia lontarkan “Gaul itu tak harus menanggalkan hijab, tapi
cukup dengan otak yang cemerlang maka kamu akan berharga dimata manusia dan
Allah.” Selama ini gue pikir berhijab itu kuno dan tidak gaul, ternyata gue
salah, mulai saat itu juga gue mengubah penampilan yang awalnya cara berpakaian
gue seperti bunglon, gue ubah tuh menjadi gue yang istiqomah berhijab syar’i dan
alhamdulillah berhijab syar’i membuat hidup lebih nyaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar