Oleh S Susanti
Abstrak: Belajar
Bahasa sebagai Bahan Komunikasi dalam Kehidupan Sehari-hari. Oleh karena
itu, belajar bahasa perlu dilakukan, melalui
proses belajar bahasa secara alami maupun proses belajar bahasa secara buatan
(formal). Jurnal ini bertujuan untuk menyadarkan masyarakat agar mengerti
betapa pentingnya mempelajari bahasa, karena bahasa merupakan alat komunikasi
antar sesama manusia.
Kata
Kunci: Proses Belajar Bahasa, Pentingnya Belajar Bahasa
Abstract: Study
Language as Substance Communication in Life Daily. Because of it,
study language must be undertaken, through process study language a method
natural or synthetic (formal). This journal having a goal for bring to reality
social
community in order to understand how to important to learn language, because
language to construct instrument communication among people.
Keyword:
Process Study Language, Important Study Languge.
Pendahuluan
Manusia berkomunikasi dengan
bahasa. “Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh
para anggota kelompok sosial untuk bekerjasama, berkomunikasi, dan
mengidentifikasi diri” (Kridalaksana, 1983). Adapun fungsi bahasa yaitu sebagai
alat komunikasi antar manusia, maka dari itu semua orang perlu menguasai
bahasa, karena bahasa digunakan dalam kehidupan
sehari-hari, baik dalam lingkungan masyarakat tempat tinggal, lingkungan
kerja ataupun lingkungan sekolah. Seseorang akan bisa menguasai bahasa ketika
ia mempelajarinya. Belajar bahasa bisa dilakukan secara alamiah maupun secara
buatan (formal). Banyak kakek-kakek atau nenek-nenek terdahulu yang tidak
pernah belajar bahasa secara formal, namun mereka bisa berbahasa dalam
berinteraksi dengan masyarakat yang ada di lingkungannya. Mengapa demikian? Mereka memang
tidak mempelajari struktur dan kaidah bahasa yang baik dan benar namun mereka
memahami bahasa secara gramatikal yang diperoleh dari hasil tiruan masyarakat
setempat yang saling berinteraksi secara aktif. Itulah yang dinamakan proses belajar
bahasa secara alamiah, lingkunganlah yang mengajari dan menuntut seseorang untuk bisa berbahasa.
Pengaruh lingkungan terhadap penguasaan bahasa seseorang sangat banyak. Karena
lingkungan menuntut seseorang untuk menguasai bahasa sebagai alat berkomunikasi
dengan masyarakat lingkungan tersebut.
Sedangkan zaman sekarang sudah
banyak orang-orang yang mempelajari bahasa secara formal. Dalam proses belajar
bahasa secara formal ini, orang akan mempelajari bagaimana menggunakan bahasa
dengan memperhatikan struktur dan kaidah bahasa yang baik dan benar.Ketika orang belajar bahasa dengan
memperhatikan struktur dan kaidah bahasa yang baik dan benar, maka kualitas
penguasaan bahasa orang itu akan semakin baik serta berkualitas. Berbeda halnya
dengan yang mempelajari bahasa secara alamiah saja, ia hanya bisa berbahasa
saja tanpa struktur dan kaidah bahasa yang baik dan benar. Bagaimanapun prosesnya belajar
bahasa, tentunya bahasa digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain, karena
tanpa menguasai bahasa kita tidak akan bisa berinteraksi dengan orang lain. Oleh kerena itu disini
saya akan membahas betapa pentingnya mempelajari bahasa sebagai bahan
komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Pembahasan
Proses belajar bahasa setiap individu berbeda-beda, belajar bahasa bisa
didapatkan dari mana saja dan dengan cara apa saja. Baik secara alamiah maupun dengan cara belajar melalui
pendidikan formal. Belajar bahasa secara alamiah merupakan proses belajar
bahasa yang didapatkan secara alami dari masyarakat sekitar yang selalu aktif
menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi antar individu untuk menunjang
segala hal yang merupakan suatu kebutuhan hidup. Belajar bahasa secara alamiah tidak mengenal suatu struktur ataupun
sistem yang mengikat. Bahasa ataupun ujaran yang sering kita dengar dari
orang-orang yang saling berinteraksi di lingkungan sekitar bisa kita tiru serta
dijadikan sebagai acuan, pedoman ataupun dasar untuk kita pelajari dan bisa
diaplikasikan dengan cara mengomunikasikannya kepada orang lain sebagai upaya
mempelajari B1 dan untuk keperluan hidup dengan masyarakat tersebut. Namun, sebelum mengomunikasikannya kepada orang lain,
alangkah lebih baiknya, kita paham terlebih dahulu makna suatu ujaran yang akan
kita ujarkan kepada orang lain, supaya tidak adanya salah paham antar penutur
bahasa.
Menggali suatu makna ujaran dapat
dilakukan dengan cara bertanya pada ahli bahasa, ataupun orang yang paham
mengenai kebahasaan yang baik dan benar. Kebahasaan yang baik dan benar bisa
kita pelajari dalam pendidikan formal, karena proses belajar bahasa pada
pendidikan formal sering kali membahas tentang struktur dan kaidah kebahasaan
yang baik dan benar. Proses belajar bahasa secara alamiah dan formal tentu
berbeda. Belajar bahasa secara alamiah orientasinya pada lancarnya menggunakan
bahasa sebagai alat komunikasi tanpa memperdebatkan ataupun mempermasalahkan
struktur dan kaidah kebahasaan sedangkan proses belajar bahasa secara formal
yaitu berorientasi pada penggunaan bahasa yang baik dan benar serta sesuai
dengan struktur dan kaidah kebahasaan yang baik dan benar. Oleh karena itu seringkali di pendidikan
formal banyak anak yang melakukan kesalahan-kesalahan berbahasa baik itu B1
ataupun B2, kesalahn-kesalahan tersebut karenadi pendidikan formal selalu menggunakan
struktur kalimat yang baik dan benar,
berbeda dengan di masyarakat, yang hanya mempelajari bahasa secara gramatikal
saja tanpa memperdulikan struktur kalimat yang benar.Belajar bahasa secara
alamiah maupun formal sama saja, yaitu sama-sama mempelajari bahasa untuk
digunakan sebagai alat interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai makhluk sosial akan bingung ketika
tidak menguasai bahasa suatu lingkungan atau budaya yang kita tempati saat itu,
karena kita berinteraksi dengan masyarakat sosial menggunakan bahasa lisan
bukan dengan bahasa isyarat. Bukan hanya bingung, namun seseorang yang tidak
menguasai B1 yang digunakan sehari-hari di masyarakatnya, sama saja orang
tersebut tidak memiliki identitas diri sebagai anggota masyarakat tersebut. Oleh
karena itu proses belajar bahasa harus ditingkatkan, baik belajar bahasa secara
alamiah maupun secara formal. Proses belajar bahasa secara alamiah
ataupun secara formal dilalui oleh anak-anak maupun orang dewasa, baik itu B1
maupun B2. Banyak konsep penguasaan bahasa yang sudah lama diteliti oleh
beberapa ahli. Ada yang meninjau dari
situasi alamiah dan adapula yang meninjau dari situasi formal. Ada beberapa
teori mengenai proses penguasaan bahasa, baik B1 ataupun B2.
Ada beberapa model belajar bahasa
kedua atau bahasa asing yang dikemukakan oleh para ahli yang pertama yaitu
menurut Krashen terdapat 5 teori proses penguasaan bahasa menurut Krashen
yaitu: hipotesis pemerolehan dan belajar bahasa (the acquisition and learning hypothesis), hipotesis urutan alamiah
(the natural order hypothesis),
hipotesis monitor ( the monitor
hypothesis), hipotesis masukan (the input hypothesis), dan hipotesis filter
afektif (the affective filter hypothesis). Hipotesis pemerolehan dan belajar
bahasa antar anak kecil dengan orang dewasa berbeda. Penguasaan bahasa pertama pada anak kecil
berlangsung secara ambang sadar dan bersifat alamiah, sedangkan proses penguasaan
bahasa kedua atau bahasa asing pada orang dewasa terjadi secara sadar melalui
bentuk-bentuk bahasa dan diwujudkan ke dalam bentuk-bentuk verbal, biasaya
orang dewasa menguasai bahasa keduanya melalui suatu proses pembelajaran bahasa
secara formal. Proses penguasaan bahasa pada anak kecil biasa disebut dengan
pemerolehan sedangkan proses penguasaan bahasa pada orang dewasa biasa disebut
dengan proses belajar. Maka dapat disimpulkan bahwa proses penguasaan bahasa
anak kecil berbeda dengan proses penguasaan bahasa orang dewasa. Hipotesis urutan alamiah merupakan
hipotesis yang menyatakan bahwa kemampuan berbahasa seseorang itu berjenjang
secara alami dan universal. Yang dimaksud berjenjang disini adalah pemerolehan
bahasa dimulai dari hal-hal yang mudah ke hal-hal yang lebih rumit, seorang
anak tidak mungkin langsung bisa mengucapkan suatu kalimat bahasa, tentunya
seorang anak kecil akan belajar bahasa dari mulai pengucapan fonem-fonem yang
mudah terlebih dahulu, baru setelah itu bisa mempelajari bahasa secara lebih
rumit ataupun lebih luas. Sedangkan yang dimaksud urutan alamiah bersifat
universal yaitu orang yang belajar menguasai bahasa kedua maupun bahasa asing
memiliki suatu kesulitan-kesulitan bahasa yang sama, mungkin ada yang
mengatakan berbeda, itu sebenarnya hanyalah berbeda pada variasi-variasi
kesulitan individual saja. Namun secara umum tetaplah sama. Hipotesis selanjutnya yaitu
hipotesis monitor. Hipotesis ini bertujuan untuk memonitoring kegiatan
berbahasa menggunakan atruktur dan kaidah-kaidah kebahasaan yang telah dipelajari
dalam proses penguasaan bahasa secara formal. Hipotesis inilah yang membedakan proses
penguasaan bahasa secara alamiah yang terjadi secara ambang sadar dengan proses
penguasaan bahasa secara formal yang merupakan proses penguasaan bahasa secara buatan. Hipotesis input, hipotesis ini
merupakan hipotesis yang menganggap bahwa kemampuan bahasa seseorang (out put) tergantung seberapa besar atau
seberapa banyak masukan (input) yang
telah ia peroleh. Menurut hipotesis input ini, ada dua keterampilan berbahasa
yang harus sering dilakukan yaitu menyimak dan membaca, karena menyimak dan
membaca merupakan input pengetahuan
yang berguna untuk menunjang output
yang lebih baik, hasil output itu
adalah keterampilan berbicara dan keterampilan menulis. Maka dari itu semakin
banyak input maka semakin baik
kualitas output yang dihasilkan. Jadi
semakin banyak menyimak dan membaca maka semakin bagur kemampuan berbicara dan
menulis. Hipotesis kelima yaitu hipotesis filter
afektif. “Hipotesis filter afektif ini menyatakan bahwa makin besar saringan
afektif pembelajar akan semakin sukar menguasai bahas kedua atau bahasa asing.
Dengan kata lain, semakin kuat benteng pertahanan afektifnya semakin sulit
untuk menguasai bahasa kedua” (Brown, 1980). Yang dimaksud saringan disini
yaitu berupa hambatan psikologis yang dirasakan oleh seseorang, seperti rasa
malu, takut, dan cemas. Hal-hal seperti itu akan menghambat proses penguasaan
bahasa kedua atau bahasa asing, karena belajar bahasa tidak akan berjalan dengan
lancar ketika tidak rasa pemberani atau rasa percaya diri untuk selalu mencoba
dan mengaplikasikannya kedalam kehidupan sehari-hari. Ketika adanya perasaan
malu, takut, dan cemas maka akan sangat menghambat perkembangan penguasaan
bahasa kedua atau bahasa asing orang tersebut. Maka dari itu hal-hal yang
menghambat proses belajar bahasa harus dihilangkan.
Selain teori Krashen, ada juga
proses belajar bahasa model Bialystok. Menurut model Bialystok proses belajar
bahasa dikategorikan menjadi tiga tataran, yaitu: input, knowledge, dan output.
Disini akan saya uraian maksud dari masing-masing tataran proses belajar bahasa
menurut model Bialystok. Tataran yang pertama yaitu Tataran input, yang dimaksud dengan tataran
input disini yaitu semakin sering seseorang belajar bahasa kedua dengan cara
membaca ataupun berbicara, maka input yang ia peroleh akan semakin besar, yang
berdampak pada penguasaan bahasa yang semakin baik da berkualitas. Selanjutnya tataran yang kedua yaitu
tataran knowledge merupakan sebuah
tataran penyimpanan informasi. Setelah informasi yang didapatkan dari beberapa input yang telah diperoleh, maka hasil input tersebut bisa disimpan secara
implisit di dalam otak yang suatu saat bisa diujarkan dalam bentuk verbal
ketika diperlukan yang merupakan hasil output. Adapun tataran proses belajar bahasa
yang ketiga menurut model Bialystok yaitu tataran pengetahuan implisit, yang
dimaksud tataran implisit ini yaitu dalam proses belajar bahasa ada sebuah
proses yang berfungsi untuk menyimpan informasi tentang bahasa target yang
diperlukan untuk mengungkapkan dan memahami suatu bahasa tertentu, itulah yang
dimaksud dengan tataran pengetahuan implisit. Tataran proses belajar bahasa model
Bialystok yang selanjutnya yaitu tataran output
bahasa yang artinya gambaran pemahaman dan pengungkapan bahasa. Setelah
seseorang melalui beberapa proses belajar bahassa atau penguasaan bahasa,
setidaknya ada gambaran pemahaman mengenai kebahasaan yang bisa di ungkapkan
melalui bahasa verbal, sehingga bisa digunakan untuk berkomunikasi atau
berinteraksi dengan dengan orang lain.
Model proses belajar bahasa yang
selanjutnya yaitu model Stevicks. Proses belajar bahasa atau penguasaan bahasa
menurut Stevick mempunyai empat ciri yaitu: hasil belajar disimpan dalam gudang
pemerolehan, belajar bahasa bisa menjadi bahan output, peranan dan fungsi pemerolehan
dan belajar tidak terlalu pisah secara ketat, faktor afeksi menjadi rheostat (potensiometer) yang bisa
membuat pembelajar sensitif terhadap sistem yang diperoleh (Teori Belajar
Bahasa, hlm 82). Itulah beberapa model proses belajar
bahasa menurut para ahli. Sungguh belajar bahasa itu sangat penting, baik B1
ataupun B2. Pentingnya menguasai B1 atau sering disebut dengan bahasa ibu atau
bahasa pertama yang diperkenalkan orang tua kepada anaknya yaitu ketika kita
hidup di lingkungan masyarakat yang kita tempati, kita perlu tahu bahasa yang
digunakan untuk berkomunikasi dengan masyarakat sekitar kita, alangkah lebih
baiknya kita mengetahui undak-usuk bahasanya, maksud undak-usuk bahasa disini
adalah penggunaan bahasa yang disesuaikan dengan lawan bicara kita. Misalnya
penggunaan bahasa terhadap orang yang lebih tua harus lebih sopan. Selain B1 tak kalah penting dengan belajar B2
atau bahasa asing karena belajar bahasa asing juga bermanfaat sekali untuk
diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat, apa jadinya ketika kita pergi ke
suatu tempat yang mayoritas penduduknya menggunakan bahasa tempat itu, yang
merupakan bahasa asing menurut kita, tentunya kita akan kebingungan untuk
berinteraksi dengan masyarakat setempat, mau membeli makanan untuk sekadar
mengganjal perut saja pasti sulit ketika kita tidak menguasai bahasa asing.
Seperti yang sudah dipaparkan
sebelumnya, penguasaan bahasa bisa didapatkan secara alamiah ataupun buatan
(formal). Kedua proses tersebut sama-sama mempunyai pengaruh penting bagi kelancaran
berbahasa seseorang. Orang yang
mempelajari bahasa secara alamiah tidak akan menguasai struktur dan kaidah
bahasa yang baik dan benar, mereka hanya bisa bertutur kata tanpa memperhatikan
struktur dan kaidah kebahasaan yang baik dan benar. Begitupula dengan pendidikan formal pun tetap saja memerlukan
lingkungan yang mendukung untuk mengaplikasikan bahasa yang sudah diperoleh di
lembaga pendidikan formal. Tanpa adanya lingkungan yang mendukung maka bahasa
yang diperoleh dari pendidikan formal akan terkubur begitu saja karena tidak
sering digunakan untuk berinteraksi.
Simpulan dan
Saran
Belajar bahasa bisa dimana saja
dan kapan saja yang penting ada niat untuk belajar. Belajar bahasa bisa
diperoleh dengan cara alami maupun
buatan (formal). Kedua-duanya saling berkaitan. Dari pembahasan sebelumnya bisa
disimpulkan bahwa penguasaan bahasa baik B1 maupun B2 itu penting, karena kita
hidup bermasyarakat yang membutuhkan bahasa sebagai alat interaksi atau alat
komunikasai antar sesama makhluk sosial. Baik itu di lingkungan tempat tinggal,
lingkungan kerja, lingkungan sekolah
ataupun di lingkungan baru yang merupakan lingkungan asing serta mempunyai
bahasa yang menurut kita asing.
Dimanapun kita berpijak, ketika kita
bisa menguasai bahasa dengan baik dan benar maka kita akan merasa nyaman hidup
dengan orang-orang sekitar, karena dengan menguasai bahasa maka komunikasi pun
akan lancar. Berbeda halnya ketika kita tidak menguasai bahasa, kita akan
kebingungan untuk saling berinterksi, karena bahasa adalah alat vital untuk
berkomunikasi dengan manusia. Maka dari itu belajar bahasa itu dikatakan
penting.
Oleh karena itu kita sebagai makhluk
sosial harus terus belajar mengenai bahasa baik secara alamiah ataupun buatan
(formal) untuk diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari.
Daftar Pustaka
Chaer,
Abdul. 2012. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Pranowo.
2015. Teori Belajar Bahasa. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Riwayat Hidup
Penulis
Susi Susanti, lahir di Cilacap, 16
Oktober 1994. SMA Negeri 1 Majenang (2013).. Kuliah di Program Studi Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Galuh Ciamis. Bergiat di UKM LDKRM,
Teater Tangtu Tilu dan Forum Aktif Menulis. Hobi menulis karya fiksi yang
berupa cerpen ataupun puisi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar