Kamis, 31 Desember 2015

PELANGI


          Namaku Sela. Aku mempunyai tiga orang sahabat. Persahabatan kita sering disebut dengan nama SSKB, nama SSKB adalah singkatan dari Sela, Sopi, Kirana, dan Bellia. Kita adalah empat sahabat yang selalu bersama, kita kuliah di program pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di sebuah universitas yang berada di Ciamis. Kita memiliki karakter yang berbeda-beda. Aku sendiri memiliki karakter dewasa tapi mudah tersinggung, Sopi memiliki karakter centil, Kirana memiliki karakter kekanak-kanakan dan Bellia terkadang dewasa namun sedikit manja. Tiga orang sahabatku sangat gemar sekali dengan yang namanya pacaran, namun berbeda dengan aku, aku paling anti yang namanya pacaran karena aku takut saat harus merasakan sakit hati ketika putus cinta dan ada alasan lain yang menyebabkan aku tidak mau pacaran yaitu aku sangat percaya dengan sebuah ayat Al-qur’an yang kurang lebih berbunyi “Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan sebaliknya” maka dari itu aku tidak mau pacaran dengan alasan ingin mempunyai suami yang tidak hobi pacaran juga.
    
      Setiap kali aku berkumpul bersama dengan sahabat-sahabatku selalu saja masalah pacar yang dibahas, sampai-sampai aku merasa risih dengan obrolan-obrolan yang aku anggap tidak penting dan hanya membuat iman semakin melemah saja. Indahnya cerita pacaran sahabat-sahabatku sesekali membuat goyah benteng keimananan hati ini. Namun, sayangnya sahabat-sahabat aku tidak mengerti apa yang aku rasakan ketika aku sedang bersama mereka, malahan mereka selalu saja menghasut agar aku segera mempunyai pacar. Prinsipku yang ingin langsung nikah saja tanpa pacaran ditentang oleh sahabat-sahabatku, karena mereka berpendapat bahwa pacaran adalah awal dari perkenalan terhadap calon suami, padahal belum tentu yang sekarang menjadi pacar akan menjadi suami kita kelak. Ada juga salah satu dari mereka yang berprinsip selagi belum menikah harus banyak pacar agar jika putus satu masih ada penggantinya dan dapat menyeleksi yang terbaik. Sungguh kontras sekali pola pikir mereka dengan pola pikirku, namun aku tetap bertahan dengan persahabatan yang telah dilalui dari sejak pertama masuk kuliah, susah senang selalu dilewati bersama, pokoknya persahabatan kita sungguh lengket deh. Sampai-sampai teman-teman di kelaspun merasa iri dengan kebersamaan kita yang terkenal dengan sebutan SSKB.

***
          Suatu ketika kita memutuskan untuk menginap bersama disalah satu kossan tepatnya di kossan Bellia, dengan tujuan untuk mempererat persahabatan kita. Sembari menunggu waktu larut malam kita melakukan perjalanan dari kossan Bellia ke alun-alun kota dengan jalan kaki supaya bisa menikmati jalan lalu lintas kota manis yaitu kota Ciamis. Perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya telah selesai dan kita sampai di alun-alun yang sering disebut taman raflesia. Sembari menunggu waktu maghrib kita nongkrong di taman raflesia sembari selfie-selfi, dan akhrirnya adzan maghrib pun berkumandang menandakan waktunya sholat maghrib. Aku mengajak Sopi, Kirana dan Bellia untuk sholat mahgrib, namun salah satu dari mereka (Kirana) menolak ajakan untuk sholat dikarenakan akan ada pacarnya menjemput untuk jalan-jalan berdua (yang sering disebut malam mingguan) sedangkan Bellia dan Sopi sedang halangan jadi hanya aku saja yang melaksanakan sholat maghrib. Selesai sholat maghrib Aku, Sopi dan Bellia melanjutkan jalan-jalan di sebuah supermarket sekitar taman raflesia sembari membeli makanan untuk dimakan di kossan Bellia, sedangkan Kirana pergi bersama pacarnya meninggalkan kita bertiga. Setelah lama berputar-putar di supermarket kami pun memutuskan untuk pulang ke kossan Bellia, sesampainya di kossan Bellia, aku melaksanakan sholat isya dan tak lama kemudian Kirana pun datang. Malam minggu itu kita isi dengan sebuah permainan konyol yaitu main kartu (tapi bukan judi), dalam permainan itu yang kalah harus dicoret-coret dengan bedak baby yang dicampur air. Kebetulan sekali kami berempat sama-sama pernah kalah jadi kita semua sama-sama cemong seperti badut. Malam semakin larut waktu menunjukkan pukul 00.45 tapi belum ada yang ngantuk kecuali aku sendiri, maklum tidak biasa begadang hhee.
          “Kamu udah ngantuk Sel??”(tanya Belila)
“Belum kok”(berbohong belum ngantuk, karena tidak mau melewatkan masa-masa
          bersama dengan sahabat-sahabatku)
          “Ohh, kirain udah ngantuk, ayo mainnya dilanjut lagi!”
Permainanpun dilanjutkan sampai waktu menunjukkan pukul 02.00 dan semuanya mulai merasakan kantuk yang sangat berat sehingga semuanya memutuskan untuk segera tidur.
***
          Suatu ketika ada hal yang tak biasa diantara SSKB, persahabatan kita tak seharmonis dahulu. Sopi, Bellia dan Kirana tampaknya mempunyai sahabat baru yang bernama Irma dan seperti telah melupakan aku, sifat Irma memang hampir sama dengan sifat-sifat mereka yaitu kekanak-kanakan dan suka pacaran sedangkan aku lebih memilih untuk memperbaiki diri namun tidak bermaksud untuk menjauhi sahabat-sahabatku itu, hanya saja aku ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan cara sering mengikuti kajian-kajian islami dan bermuhasabah diri. Sempat sesekali aku mengajak Sopi, Bellia dan Kirana untuk mengikuti kajian-kajian islam itu, namun apalah daya mereka menganggap bahwa kajian islam tidak penting karena mereka pikir hidup mereka masih lama jadi bersenang-senanglah dulu sebelum tua, padahal umur seseorang tidak ada yang tau. Persahabatan kami pun semakin renggang karena kita tak pernah bermain bersama lagi, kami  hidup dengan kesibukan masing-masing.

          Suatu ketika aku mengajak Sopi, Kirana dan Bellia untuk bermain bersama dan saat kami duduk-duduk bersama serta bernostalgia indahnya persahabatan kami yang dahulu pernah diukir bersama, ada rasa rindu yang sangat mendalam tentang kenangan-kenangan indah itu. Rasa rindu itu menyadarkan kami untuk saling  intropeksi diri dan bermaaf-maafan hingga kami menyadari bahwa suatu perbedaan sifat bukanlah alasan untuk saling menjauh antara satu sama lain. “Aku tak mau jauh dari kalian, aku ingin kita selalu bersama, aku merindukan kebersamaan yang dulu pernah ada, sungguh aku merindukan kenangan-kenangan indah kita dahulu, kalian adalah pelangi hidupku yang selalu memberi warna di setiap hari-hariku” (Sela berbicara dengan tangisan yang tak henti-henti) dan akhirnya empat sahabat itu menagis dan saling berpelukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar