BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah
Karya sastra merupakan aktualisasi
kehidupan. Sastra berisi kekuatan yang berisi pengalaman dan pengetahuan
dari pengarang. Karya sastra menjadi indah karena dibingkai dalam bentuk yang
menarik dan disajikan dengan isi yang memikat pembaca. Karya sastra berbeda
dengan karya yang lain karena karya sastra memiliki aspek keindahan dalam
penggunaan bahasa. Karya sastra terdiri dari beberapa macam.
Novel adalah salah satu bentuk karya
sastra. Novel adalah cerita atau rekaan
(fiction), disebut juga teksnaratif (narrative teks) atau wacana naratif
(narrative discourse). Peristiwa, tokoh, dan tempat yang ada dalam fiksi
adalah peristiwa, tokoh, dan tempat yang imajinatif. Dalam novel
terdapat satu pilihan di antara berbagai aspek kehidupan untuk diperhatikan
(Boulton dalam Al-Ma’ruf, 2010: 2). Melalui kesusastraan kita dapat belajar
banyak tentang hidup ini dengan menemukan apa yng dianggap penting oleh orang
lain Sumardjo dalam Al-Ma’ruf: 2).
Novel berisi peristiwa-peristiwa
yang berkaitan membentuk ikatan yang saling mempengaruhi. Selain itu, dalam
novel terdapat unsur-unsur utama dan pendukung yang menjadikan novel dapat
dinikmati oleh pembaca. Dari novel pembaca dapat mengambil makna atau pesan
yang disampaikan baik secara tersurat maupun tersirat oleh pengarang. Tetapi
pada umumnya pengarang menyampaikan gagasan atau pesan yang akan disampaikan
secara tersirat. Sehingga tak jarang pembaca harus bekerja dengan penuh kemampuan
untuk menemukan makna yang disampaikan pengarang.
Novel Belantik (Bekisar Merah II ) merupakan
novel karangan Ahmad Tohari. Novel ini merupakan novel lanjutandari novel sebelumnya Bekisar Merah yang
terbit tahun 1993. Novel ini diterbitkan pada tahun 2001. Salah satu karyanya
yang terkemuka adalah trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus
Dini Hari (1985), dan Jentera Bianglala (1986). Ahmad Tohari adalah pengarang
yang memiliki ciri khas dalam karyanya. Karya-karyanya sebagian besar mengambil
latar di daerah pedesaan. Dia juga pengarang yang kritis terhadap keadaan bangsa.
Karyanya juga ada yang merupakan bentuk kritisi terhadap keadaan pemerintahan
yang tidak sesuai dengan keadilan. Pada tulisan ini akan dibahas
mengenai struktur lahir dan gagasan yang terdapat pada novel Belantik (Bekisar Merah II ).
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah sinopsis dari novel Belantik (Bekisar Merah II )?
2. Apa saja unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam
novel Belantik (Bekisar Merah
II )?
3. Apa saja unsur-unsur ekstrinsik yang terdapat dalam novel Belantik (Bekisar Merah II )?
C. Tujuan Penulisan
1. Mendeskripsikan sinopsis dari novel Belantik (Bekisar Merah II ).
2. Menguraikan unsur-unsur
intrinsik yang terdapat dalam novel Belantik
(Bekisar Merah II ).
3. Menguraikan unsur-unsur
ekstrinsik yang terdapat dalam novel Belantik
(Bekisar Merah II ).
D. Manfaat
1. Mengetahui sinopsis dari novel Belantik (Bekisar Merah II ).
2. Mengetahui unsur-unsur
intrinsik yang terdapat dalam novel Belantik
(Bekisar Merah II ).
3. Mengetahui unsur-unsur
ekstrinsik yang terdapat dalam novel Belantik
(Bekisar Merah II ).
BAB II
PEMBAHASAN
A.Sinopsis
Novel Belantik (Bekisar
Merah II)
Suatu
hari Handarbeni merasa sangat gelisah. Handarbeni adalah salah satu pejabat
Negara. Dia memiliki musuh yang bernama Bambung, yaitu seorang pejabat yang
terkenal sebagai pelobi yang cerdik. Dia gelisah karena istri simpanannya yang
bernama Lasi akan dipinjam oleh Bambung. Lasi adalah seorang wanita dusun yang
pergi Jakarta untuk bekerja menjadi wanita penghibur. Karena parasnya yang
cantik, sehingga dia menjadi rebutan para pejabat Negara.
Karena selalu gelisah, Handarbeni meminta pendapat Bu Lanting tentang hal yang sedang dirasakannya. Bu Lanting adalah seorang mucikari tingkat tinggi. Sebelum mengutarakan pendapatnya, Bu Lanting malah tertawa dan menjelaskan bahwa hal ini adalah kesalahan Handarbeni sendiri karena dia membebaskan Lasi untuk mencari lelaki lain asalkan dia tetap menjadi istri Handarbeni.
Pada suatu hari Lasi diajak Bu Lanting pergi ke Singapura, dengan alasan dia ingin bertemu dengan pacarnya. Di Singapura Lasi diajak untuk berbelanja sepuasnya. Di sana dia menginginkan sebuah kalung liontin seharga Satu Setengah Dolar Amerika, itu setara dengan sekian Milyar Rupiah. Lelaki yang dimaksud Bu Lanting sebagai pacarnya adalah Pak Bambung. Hal ini sebenarnya hanya siasat Bu Lanting untuk mendekatkan Lasi dengan Pak Bambung.
Suatu malam Lasi diajak menemani Pak Bambung pada acara pertemuan dengan para pejabat-pejabat tinggi dan dihadiri oleh Duta Besar. Pada acara itu, Lasi dirias layaknya seorang ratu, dan ia pun diberi hadiah berupa kalung liontin yang diinginkannya waktu belanja bersama Bu Lanting. Setelah acara pertemuan itu selesai, Pak Bambung meminta Lasi untuk menemaninya malam itu. Tetapi Lasi tidak mau melakukan hubungan badan dengan Pak Bambung, dengan alasan dia masih menjadi istri Handarbeni.
Karena selalu gelisah, Handarbeni meminta pendapat Bu Lanting tentang hal yang sedang dirasakannya. Bu Lanting adalah seorang mucikari tingkat tinggi. Sebelum mengutarakan pendapatnya, Bu Lanting malah tertawa dan menjelaskan bahwa hal ini adalah kesalahan Handarbeni sendiri karena dia membebaskan Lasi untuk mencari lelaki lain asalkan dia tetap menjadi istri Handarbeni.
Pada suatu hari Lasi diajak Bu Lanting pergi ke Singapura, dengan alasan dia ingin bertemu dengan pacarnya. Di Singapura Lasi diajak untuk berbelanja sepuasnya. Di sana dia menginginkan sebuah kalung liontin seharga Satu Setengah Dolar Amerika, itu setara dengan sekian Milyar Rupiah. Lelaki yang dimaksud Bu Lanting sebagai pacarnya adalah Pak Bambung. Hal ini sebenarnya hanya siasat Bu Lanting untuk mendekatkan Lasi dengan Pak Bambung.
Suatu malam Lasi diajak menemani Pak Bambung pada acara pertemuan dengan para pejabat-pejabat tinggi dan dihadiri oleh Duta Besar. Pada acara itu, Lasi dirias layaknya seorang ratu, dan ia pun diberi hadiah berupa kalung liontin yang diinginkannya waktu belanja bersama Bu Lanting. Setelah acara pertemuan itu selesai, Pak Bambung meminta Lasi untuk menemaninya malam itu. Tetapi Lasi tidak mau melakukan hubungan badan dengan Pak Bambung, dengan alasan dia masih menjadi istri Handarbeni.
Keesokan
harinya setelah sampai di Jakarta, dia menemukan bahwa rumahnya sedang sepi.
Keesokan harinya dia tiba-tiba mendapat telepon dari Bu Lanting, ia menyatakan
bahwa Handarbeni akan menceraikan Lasi. Lalu Lasi menelpon Handarbeni, dan ternyata
benar Handarbeni menyatakan bahwa dia akan menceraikan Lasi. Setelah mendengar
itu, hati Lasi menjadi sedih, dan memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya
di Karangsoga.
Di Karangsoga, dia menceritakan semua kejadian dan masalah yang dialaminya kepada Eyang Mus, sesepuh kampung itu. Di sana selain bertemu dengan orang tuanya dia juga bertemu dengan Kanjat, temannya semasa kecil yang sekarang sudah bekerja sebagai Dosen. Waktu malamnya, dia berbincang-bicang dengan Kanjat. Dan dia meminta Kanjat untuk mengantarkannya ke rumah pamannya di Sulawesi. Sebelum pergi, Kanjat meminta pendapat Eyang Mus. Dan Eyang Mus pun menyuruh keduanya untuk menikah, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan pada waktu di perjalanan. Karena Lasi dan Kanjat saling mencintai, akhirnya keduanyapun menikah.
Di Karangsoga, dia menceritakan semua kejadian dan masalah yang dialaminya kepada Eyang Mus, sesepuh kampung itu. Di sana selain bertemu dengan orang tuanya dia juga bertemu dengan Kanjat, temannya semasa kecil yang sekarang sudah bekerja sebagai Dosen. Waktu malamnya, dia berbincang-bicang dengan Kanjat. Dan dia meminta Kanjat untuk mengantarkannya ke rumah pamannya di Sulawesi. Sebelum pergi, Kanjat meminta pendapat Eyang Mus. Dan Eyang Mus pun menyuruh keduanya untuk menikah, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan pada waktu di perjalanan. Karena Lasi dan Kanjat saling mencintai, akhirnya keduanyapun menikah.
Tak
lama setelah mereka menikah, ada dua orang suruhan Pak Bambung memaksa Lasi
untuk kembali ke Jakarta. Di Jakarta Lasi tinggal di rumah Pak Bambung. Suatu
hari Bu Lanting menemui Lasi, dan Lasi berkata bahwa dia sekarang sedang
mengandung anak hasil perkawinannya dengan Kanjat. Hal ini membuat Pak Bambung
marah karena dia tidak suka pada wanita yang sedang hamil, dan ini membuat hati
Lasi tenang. Waktu di Jakarta Lasi selalu menyempatkan dirinya untuk menelepon Kanjat
dan memberitahukan bahwa dia sedang mengandung anak mereka. Dan Lasi juga
menceritakan tentang surat-surat penting milik Pak Bambung yang diberitahukan
Bu lanting kepada Lasi.
Suatu
hari tidak sengaja Kanjat mendengarkan radio, dan di radio itu ada berita
tentang pelobi tingkat tinggi yang telah berhasil ditangkap oleh polisi dan
sudah ditahan oleh Kejaksaan Agung, dengan dugaan adanya tindak korupsi. Orang
yang ditangkap itu tak lain adalah Pak Bambung.
Berita tersebut membuat Kanjat kaget karena Lasi pasti ikut diperiksa dalam kasus ini, sebab Lasi menjadi wanita simpanan Bambung. Dan kanjat memutuskan untuk pergi ke Jakarta ditemani oleh Pardi, sopir truk gula yang biasa mengantar barang ke Jakarta. Di sana dia menuju ke kantor polisi untuk bertemu dengan Lasi. Dia ingin supaya Lasi cepat bebas, tetapi Lasi tidak langsung bebas dan dia tetap ditahan untuk selalu memberikan keterangan kepada polisi tentang Bambung. Dan Kanjat pun meminta tolong kepada temannya, seorang pengacara yang bernama Blakasuta. Blakasuta mau menolong Kanjat, dan akhirnya Lasi pun dapat bebas dari tahanan. Lasi dan Kanjat pun akhirnya pulang kembali ke Karangsoga.
Berita tersebut membuat Kanjat kaget karena Lasi pasti ikut diperiksa dalam kasus ini, sebab Lasi menjadi wanita simpanan Bambung. Dan kanjat memutuskan untuk pergi ke Jakarta ditemani oleh Pardi, sopir truk gula yang biasa mengantar barang ke Jakarta. Di sana dia menuju ke kantor polisi untuk bertemu dengan Lasi. Dia ingin supaya Lasi cepat bebas, tetapi Lasi tidak langsung bebas dan dia tetap ditahan untuk selalu memberikan keterangan kepada polisi tentang Bambung. Dan Kanjat pun meminta tolong kepada temannya, seorang pengacara yang bernama Blakasuta. Blakasuta mau menolong Kanjat, dan akhirnya Lasi pun dapat bebas dari tahanan. Lasi dan Kanjat pun akhirnya pulang kembali ke Karangsoga.
B. Unsur-Unsur
Intrinsik Belantik (Bekisar Merah II)
1. Tema : Liku-liku perjalanan hidup
Lasi dari gadis dusun menjadi wanita sosialita.
Novel
Belantik (Bekisar Merah
II) ini memiliki tema kehidupan
yang berkebalikan dari keadaan nyata. Manusia
adaalah makhluk paradoksal. Banyak hal-hal yang disampaikan pengarang dengan
sajian yang berkebalikan. Orang yang
berpendidikan dan memiliki wewenang kebijakan justru menyalahgunakan hal tersebut
demi kepentingan pribadi. Mereka mengorbankan kepentingan rakyat kecil. Novel
ini mencerminkan dari keadaan sosial di masyarakat. Rakyat kecil yang hidup diantara
kepentingan pribadi para penguasa. Hal lain yang menjadi bagian dari
keterbalikan keadaan ini adalah apa yang dirasakan tokoh Lasi. Walaupun Lasi
berada pada keadaan hidup yang mewah, tetapi ia tidak merasakan keindahan hidup
yang sebenarnya. Ia merasakan hidup seperti dalam angan-angan.
2. Tokoh dan
Penokohan
a)
Lasi :
Lugu, sederhana, setia, penurut, mudah ditipu.
b)
Kanjat :
Pandai, setia, sederhana, rela berkorban.
c)
Pak Bambung :
Licik, haus akan kekuasaan, gila wanita, tega.
d)
Handarbeni :
Haus akan kekuasaan dan materi, keras kepala, pemarah.
e)
Bu Lanting :
Materialistik, genit, suka menipu, licik.
f)
Eyang Mus :
Baik hati, sederhana, bijaksana.
g)
Pak Min :
Sederhana, patuh pada atasan, penganut paham kejawen.
h)
Bu Min :
Cerewet, baik hati, suka menolong.
i)
Pardi :
Cekatan, suka menolong.
j)
Blakasuta :
Suka menolong, baik hati.
3. Latar
Latar adalah latar belakang
terjadinya cerita. Latar dibagi menjadi empat, yaitu latar waktu, tempat,
sosial dan suasana.
1) Waktu
Novel Belantik (Bekisar Merah II) ini memiliki latar waktu yang cukup lama. Beberapa data yang terdapat dalam novel ini meunjukkan
novel ini bersetingkan waktu antara tahun 1966 sampai dengan tahun1970-an.
“Sementara pemerintah baru Indonesia yang tak punya modal dan kurang pengalaman… padahal kebutuhan akan
petrodollar dalam jumlah besar sudah sangat mendesak untuk menegakkan kekuasaaan Orde baru. (hal. 41)
Adalah seorang wartawan senior yang pada awal 70-an sangat gigih menggugat ketidakberesan dalam masalah minyak ini.(hal. 42)
Dari
keterangan di atas dapat ditarik permasalahan bahwa kekuasaan Orde Baru dimulai ketika presiden Sukarno turun yaitu tahun 1966.
Dan ada informasi mengenai kasus penggugatan ketidakberesan masalah minyak sekitar tahun
1970-an.
2) Tempat
Ø Jakarta
: Perkantoran, perumahan elite di timur Bundaran HI.
Ø Singapura
: Pusat perbelanjaan, hotel.
Ø Karangsoga:
Rumah Lasi, rumah Eyang Mus, Musholla.
Ø Di dalam kapal yang sedang berlayar
dari Karangsoga menuju Sulawesi.
Novel Belantik (Bekisar Merah II) memiliki
latar tempat yang dominan berada di Jakarta. Memang tidak hanya Jakarta saja
yang menjadi latar tempat pada novel ini. Tetapi Jakarta adalah latar yang
paling sering disebutkan. Hal ini terlihat dari beberapa kutipan yang
dinyatakan secara implisit maupun eksplisit.
“Sebetulnya
ibu mau kemana? Atau hanya mau putar-putar? Atau mau ke Pantai Ancol? Kalau ya,
saya mau menemani ibu.”
“Antar saya ke Cikini.” (hal 64)
Walaupun
secara tidak langsung percakapan di atas menyebutkan nama daerah tertentu.
Tetapi terdapat kata kunci yang spesifik menunjukkan nama suatu kota. Pantai
Ancol dan Cikini adalah simbol dari sebuah kota yaitu Jakarta.
Terdapat juga petunjuk yang secara langsung menyebutkan bahwa Jakarta merupakan
tempat yang sering disebut.
... konon
dialah yang mengatur siasat dan kongkalikong, sehingga pintu untuk
masuknya petrodolar ke Jakarta sesudah bung Karno tersingkir terbuka. (hal 6).
keterangan lain yang menunjukkan keterangan tentang tempat adalah
Lasi duduk tak tenang di beranda
rumahnya yang megah di Slipi, Jakarta Barat.(hal 21-22).
3)
Sosial
Latar sosial novel ini adalah kehidupan di Ibukota
yang keras. Keadaan lingkungan yang tidak seperti di desa yang penuh keramahan.
Hal ini sangat dirasakan oleh tokoh Lasi. Perbedaan itu dirasakannya ketika
bertempat tinggal di Slipi. Berbeda dengan keadaan desa Karangsoga yang penuh
keramahan dan kekeluargaan. Ketika tinggal di Slipi Lasi hanya merasakan
kesepian dan kemasyarakatan yang kurang ramah. Keadaan sosial lain adalah bahwa
kehidupan di Jakarta berorientasi pada materi. Apapun akan dilakukan untuk
mendapatkan materi. Apa yang dilakukan Bu Lanting, Bambung, dan Handarbeni
adalah cerminan kedudukan mampu menjadikan semuanya halal. Apapun mereka
lakukan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
4. Latar
suasana
:
Ø Menyedihkan
: Terjadi ketika penulis menceritakan jalan hidup Lasi sejak ia menikah dengan
Darsa hingga ia menjadi simpanan Pak Bambung.
Ø Mengharukan
: Terjadi pada saat Lasi menikah dengan Kanjat dan pada saat pertemuan Lasi
dengan Kanjat di Rutan.
Ø Menegangkan
: Terjadi pada saat penangkapan Lasi di dalam kapal oleh polisi.
Ø Membahagiakan : Terjadi
pada saat Lasi mengetahui bahwa ia hamil anak Kanjat dan pada saat Lasi
diputuskan bebas oleh pihak kepolisian.
4. Alur
Novel ini menggunakan alur maju, karena diawali dengan
perkenalan para tokoh kemudian dilanjutkan dengan jalan hidup tokoh.
NovelBelantik (Bekisar Merah II) memiliki alur
maju.Pengarang mengisahkan rangkaian cerita dalam lima tahap.
a. Pengenalan tokoh
Lasiadalahgadisdesa.IamerupakangadisketurunanJawa-Jepang. Iapergike Jakarta
karenakecewadenganDarsa. Suaminya yang tegamenghianatinya.Di Jakarta
LasiditampungolehbuLanting.Seorangmucikarikelasatas.BerkatcampurtanganbuLanting,
LasimenjadiistriHandarbeni.Seorangpurnawirawan yang
berprofesisebagaidirekturperusahaandanjugapolitisi.
b. Pemunculan konflik
Bambung
adalah seorang pelobi handal di ibukota. Relainya yang kuat membuat Bambung
disegani banyak orang. Tak berbeda dengan Handarbeni, Bambung juga seorang priyayi
Jawa yang memiliki banyak wanita simpanan. Pertemuannya dengan Handarbeni yang
pada saat bersamaan menggandeng Lasi membat Bambung tertarik dengan Lasi.
Ketertarikan Bambung itu membuatnya melakukan segala cara untuk mendapatkan
Lasi. Bambung yang memiliki kemampuan diplomasi yang dikenal kuat dan mengikat
meminta Handarbeni untuk melepaskannya. Suatu tawaran yang berat untuk
Handarbeni. Di satu sisi Handarbeni begitu mencintai Lasi karena Lasi begitu
istimewa. Lasi berbeda dengan wanita lain yang pernah dinikahi Handarbeni.
Tetapi di satu sisi, menolak permintaan Bambung sama saja mengamcam posisi
kariernya. Bambung yang memiliki relasi orang-orang kuat tentu akan dengan
mudah mendepak Handarbeni dari posisi jabatannya.
c. Peningkatan konflik
Handarbeni
menceraikan Lasi. Handarbeni lebih memilih mengamankan jabatannya. Dengan
bantuan bu Lanting yang mengatur pertemuan antara Lasi dan Bambung di Singapura. Bambung dengan keahliannya merayu wanita memberikan
beberapa barang untuk mendapatkan perhatian Lasi. Lasi adalah wanita yang
setia. Walaupun ia sebagai bekisar, ia tetap memiliki karakter wanita jawa yang
santun. Kekecewaannya pada Handarbeni
karena telah menceraikannya membuat dia merasa sedih. Kehidupannya seperti
tidak bermakna. Secara materi ia merasakan kenikmatan dengan harta yang
melimpah. Tetapi secara batin ia merasa tersiksa. Banyak hal yang dirasakannya
tidak ada artinya.
d. Klimaks
Lasimemutuskankaburdari Jakarta.Meski Bu LantingmengancambahwaBambungdapatmenangkapLasikemanapundialari,
LasitetapnekatpergidarirumahHandarbenipulangkekampunghalamannya.Tak lama di
Karangsoga, Lasimemutuskanuntukbersembunyi di rumahpamannya di Sulawesi
Tengah.LasimemintakesediaanKanjatmengantarkePalu.Akhirnya, atasnasihatEyangMus,
orang yang dituakan di Karangsoga,
LasidanKanjatdinikahkansebelumberangkatkePalu.
5. Gaya
bahasa
Gaya
bahasa penulis banyak menggunakan kata-kata konotasi dalam penyampaian jalan
ceritanya. Selain itu banyak menggunakan istilah-istilah tidak baku. Penulis
juga menyisipkan pepatah-pepatah Jawa untuk menyelaraskan dengan jalan cerita.
6. Sudut
pandang
Novel ini menggunakan sudut pandang
orang ketiga serba tahu.
7.
Amanat
Ø Berpikirlah sebelum bertindak
sesuatu, janganlah terlalu menuruti kemauan orang lain. Kita harus tahu mana
yang baik untuk dilakukan dan mana yang tidak.
Ø Kekuasaan dan materi bukanlah
segalanya. Janganlah kita menghalalkan segala cara demi memuaskan nafsu duniawi
kita, karena akibatnya akan sia-sia.
Ø Menjaga kesuciaan bagi wanita adalah
hal yang sangat penting untuk menghormati suami.
C.
Unsur-Unsur Ekstrinsik Belantik (Bekisar Merah II)
1. Nilai
Sosial / Kemasyarakatan
Ketika
Lasi diajak pak Bambung pada acara pertemuan dengan para pejabat-pejabat tinggi
yang dihadiri oleh duta besar, Lasi dapat menyesuaikan diri layaknya seorang
wanita kelas tinggi, meskipun lasi sebenarnya hanya berasal dari desa dan kurang
berpendidikan.
2. Nilai Kejiwaan
/ Psikologi
Ketika
Lasi sedang mengandung anak dari Kanjat, Bulanting menyuruh Lasi untuk
menggugurkan kandungannya. Ketika itu Lasi merasa sangat terpuruk dan batinnya
tertekan karena Lasi tidak ingin menggugurkan kandungannya yang selama ini Lasi
tunggu-tunggu. Namun, Bulanting tetap memaksa Lasi untuk menggugurkan kandungan
tersebut karena pak Bambung menginginkan Lasi untuk menemaninya.
3. Nilai Budaya
Ketika Lasi hidup di Karangsoga
hidupnya sederhana, mata pencaharian suami Lasi
hanya seorang penyadap gula aren. Namun setelah Lasi pergi ke Jakarta
dan bertemu dengan Bulanting hidupnya berubah , gaya hidup Lasi menjadi serba
mewah layaknya wanita sosialita.
4. Nilai
Ekonomi
Ketika
Lasi hidup di karangsoga ekonominya tergolong miskin, Lasi hanya
mempunyai penghasilan dari mata pencahariannya membuat gula aren, setelah Lasi
kabur ke Jakarta dan bertemu dengan Bulanting hidupnya menjadi serba kecukupan
dan bergaya hidup mewah.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Setelah
kita menguraikan unsur-unsur yang terdapat novel Belantik (Bekisar Merah II)
kita dapat memetik pelajaran dari lika-liku kehidupan Lasi. Diantaranya
hendaklah kita berpikir sebelum bertindak sesuatu, janganlah terlalu menuruti
kemauan orang lain. Kita harus tahu mana yang baik untuk dilakukan dan mana
yang tidak. Kekuasaan dan materi bukanlah segalanya.
B.
SARAN
Setelah
kita membaca novel Belantik (Bekisar Merah II) hendaknya kita dapat mengambil
hikmah atas kejadian yang menimpa Lasi. Janganlah kita menghalalkan segala cara
demi memuaskan nafsu duniawi kita, karena akibatnya akan sia-sia.Menjaga
kesuciaan bagi wanita adalah hal yang sangat penting untuk menghormati suami.
DAFTAR PUSTAKA
Wibowo,
Sigit. 2012. Analisis struktur dan
Gagasan Novel Belantik (Bekisar Merah II)Karya Ahmad Tohari Dengan Pendekatan
Semiotik. Diakses pada tanggal 23 November 2014
Hidayati,
Amalia Safitri. 2014. Analisis Novel
Belantik (Bekisar merah II). Diakses pada tanggal 23 November 2014
Tohari, Ahmad. 2001. Belantik (Bekisar Merah II).PT Gramedia
Pustaka Utama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar