Selasa, 29 September 2015

Analisis Novel Belantik



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Karya sastra merupakan aktualisasi kehidupan. Sastra berisi kekuatan yang berisi pengalaman  dan pengetahuan dari pengarang. Karya sastra menjadi indah karena dibingkai dalam bentuk yang menarik dan disajikan dengan isi yang memikat pembaca. Karya sastra berbeda dengan karya yang lain karena karya sastra memiliki aspek keindahan dalam penggunaan bahasa. Karya sastra terdiri dari beberapa macam.
Novel adalah salah satu bentuk karya sastra. Novel adalah cerita atau rekaan (fiction), disebut juga teksnaratif (narrative teks) atau wacana naratif (narrative discourse). Peristiwa, tokoh, dan tempat yang ada dalam fiksi adalah peristiwa, tokoh, dan tempat yang imajinatif. Dalam novel terdapat satu pilihan di antara berbagai aspek kehidupan untuk diperhatikan (Boulton dalam Al-Ma’ruf, 2010: 2). Melalui kesusastraan kita dapat belajar banyak tentang hidup ini dengan menemukan apa yng dianggap penting oleh orang lain Sumardjo dalam Al-Ma’ruf: 2).
Novel berisi peristiwa-peristiwa yang berkaitan membentuk ikatan yang saling mempengaruhi. Selain itu, dalam novel terdapat unsur-unsur utama dan pendukung yang menjadikan novel dapat dinikmati oleh pembaca. Dari novel pembaca dapat mengambil makna atau pesan yang disampaikan baik secara tersurat maupun tersirat oleh pengarang. Tetapi pada umumnya pengarang menyampaikan gagasan atau pesan yang akan disampaikan secara tersirat. Sehingga tak jarang pembaca harus bekerja dengan penuh kemampuan untuk menemukan makna yang disampaikan pengarang.
Novel Belantik (Bekisar Merah II ) merupakan novel karangan Ahmad Tohari. Novel ini merupakan novel lanjutandari novel sebelumnya Bekisar Merah yang terbit tahun 1993. Novel ini diterbitkan pada tahun 2001. Salah satu karyanya yang terkemuka adalah trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), dan Jentera Bianglala (1986). Ahmad Tohari adalah pengarang yang memiliki ciri khas dalam karyanya. Karya-karyanya sebagian besar mengambil latar di daerah pedesaan. Dia juga pengarang yang kritis terhadap keadaan bangsa. Karyanya juga ada yang merupakan bentuk kritisi terhadap keadaan pemerintahan yang tidak sesuai dengan keadilan. Pada tulisan ini akan dibahas mengenai struktur lahir dan gagasan yang terdapat pada novel Belantik (Bekisar Merah II ).

B.       Rumusan Masalah
1.    Bagaimanakah sinopsis dari novel Belantik (Bekisar Merah II )?
2.   Apa saja unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam novel Belantik (Bekisar Merah II )?
3. Apa saja unsur-unsur ekstrinsik yang terdapat dalam novel Belantik (Bekisar Merah II )?


C.      Tujuan Penulisan
1.    Mendeskripsikan sinopsis dari novel Belantik (Bekisar Merah II ).
2.    Menguraikan unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam novel Belantik
(Bekisar Merah II ).
3.    Menguraikan unsur-unsur ekstrinsik yang terdapat dalam novel Belantik
(Bekisar Merah II ).


D.      Manfaat
1.    Mengetahui sinopsis dari  novel Belantik (Bekisar Merah II ).
2.    Mengetahui unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam novel Belantik
(Bekisar Merah II ).
3.    Mengetahui unsur-unsur ekstrinsik yang terdapat dalam novel Belantik
(Bekisar Merah II ).


BAB II
PEMBAHASAN

A.Sinopsis Novel Belantik (Bekisar Merah II)
            Suatu hari Handarbeni merasa sangat gelisah. Handarbeni adalah salah satu pejabat Negara. Dia memiliki musuh yang bernama Bambung, yaitu seorang pejabat yang terkenal sebagai pelobi yang cerdik. Dia gelisah karena istri simpanannya yang bernama Lasi akan dipinjam oleh Bambung. Lasi adalah seorang wanita dusun yang pergi Jakarta untuk bekerja menjadi wanita penghibur. Karena parasnya yang cantik, sehingga dia menjadi rebutan para pejabat Negara.
Karena selalu gelisah, Handarbeni meminta pendapat Bu Lanting tentang hal yang sedang dirasakannya. Bu Lanting adalah seorang mucikari tingkat tinggi. Sebelum mengutarakan pendapatnya, Bu Lanting malah tertawa dan menjelaskan bahwa hal ini adalah kesalahan Handarbeni sendiri karena dia membebaskan Lasi untuk mencari lelaki lain asalkan dia tetap menjadi istri Handarbeni.
            Pada suatu hari Lasi diajak Bu Lanting pergi ke Singapura, dengan alasan dia ingin bertemu dengan pacarnya. Di Singapura Lasi diajak untuk berbelanja sepuasnya. Di sana dia menginginkan sebuah kalung liontin seharga Satu Setengah Dolar Amerika, itu setara dengan sekian Milyar Rupiah. Lelaki yang dimaksud Bu Lanting sebagai pacarnya adalah Pak Bambung. Hal ini sebenarnya hanya siasat Bu Lanting untuk mendekatkan Lasi dengan Pak Bambung.
Suatu malam Lasi diajak menemani Pak Bambung pada acara pertemuan dengan para pejabat-pejabat tinggi dan dihadiri oleh Duta Besar. Pada acara itu, Lasi dirias layaknya seorang ratu, dan ia pun diberi hadiah berupa kalung liontin yang diinginkannya waktu belanja bersama Bu Lanting. Setelah acara pertemuan itu selesai, Pak Bambung meminta Lasi untuk menemaninya malam itu. Tetapi Lasi tidak mau melakukan hubungan badan dengan Pak Bambung, dengan alasan dia masih menjadi istri Handarbeni.
            Keesokan harinya setelah sampai di Jakarta, dia menemukan bahwa rumahnya sedang sepi. Keesokan harinya dia tiba-tiba mendapat telepon dari Bu Lanting, ia menyatakan bahwa Handarbeni akan menceraikan Lasi. Lalu Lasi menelpon Handarbeni, dan ternyata benar Handarbeni menyatakan bahwa dia akan menceraikan Lasi. Setelah mendengar itu, hati Lasi menjadi sedih, dan memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Karangsoga.
Di Karangsoga, dia menceritakan semua kejadian dan masalah yang dialaminya kepada Eyang Mus, sesepuh kampung itu. Di sana selain bertemu dengan orang tuanya dia juga bertemu dengan Kanjat, temannya semasa kecil yang sekarang sudah bekerja sebagai Dosen. Waktu malamnya, dia berbincang-bicang dengan Kanjat. Dan dia meminta Kanjat untuk mengantarkannya ke rumah pamannya di Sulawesi. Sebelum pergi, Kanjat meminta pendapat Eyang Mus. Dan Eyang Mus pun menyuruh keduanya untuk menikah, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan pada waktu di perjalanan. Karena Lasi dan Kanjat saling mencintai, akhirnya keduanyapun menikah.
            Tak lama setelah mereka menikah, ada dua orang suruhan Pak Bambung memaksa Lasi untuk kembali ke Jakarta. Di Jakarta Lasi tinggal di rumah Pak Bambung. Suatu hari Bu Lanting menemui Lasi, dan Lasi berkata bahwa dia sekarang sedang mengandung anak hasil perkawinannya dengan Kanjat. Hal ini membuat Pak Bambung marah karena dia tidak suka pada wanita yang sedang hamil, dan ini membuat hati Lasi tenang. Waktu di Jakarta Lasi selalu menyempatkan dirinya untuk menelepon Kanjat dan memberitahukan bahwa dia sedang mengandung anak mereka. Dan Lasi juga menceritakan tentang surat-surat penting milik Pak Bambung yang diberitahukan Bu lanting kepada Lasi.
            Suatu hari tidak sengaja Kanjat mendengarkan radio, dan di radio itu ada berita tentang pelobi tingkat tinggi yang telah berhasil ditangkap oleh polisi dan sudah ditahan oleh Kejaksaan Agung, dengan dugaan adanya tindak korupsi. Orang yang ditangkap itu tak lain adalah Pak Bambung.
Berita tersebut membuat Kanjat kaget karena Lasi pasti ikut diperiksa dalam kasus ini, sebab Lasi menjadi wanita simpanan Bambung. Dan kanjat memutuskan untuk pergi ke Jakarta ditemani oleh Pardi, sopir truk gula yang biasa mengantar barang ke Jakarta. Di sana dia menuju ke kantor polisi untuk bertemu dengan Lasi. Dia ingin supaya Lasi cepat bebas, tetapi Lasi tidak langsung bebas dan dia tetap ditahan untuk selalu memberikan keterangan kepada polisi tentang Bambung. Dan Kanjat pun meminta tolong kepada temannya, seorang pengacara yang bernama Blakasuta. Blakasuta mau menolong Kanjat, dan akhirnya Lasi pun dapat bebas dari tahanan. Lasi dan Kanjat pun akhirnya pulang kembali ke Karangsoga.

B. Unsur-Unsur Intrinsik Belantik (Bekisar Merah II)
          
1. Tema : Liku-liku perjalanan hidup Lasi dari gadis dusun menjadi wanita                        sosialita.
            Novel Belantik (Bekisar Merah II) ini memiliki tema kehidupan yang berkebalikan dari keadaan nyata. Manusia adaalah makhluk paradoksal. Banyak hal-hal yang disampaikan pengarang dengan sajian yang berkebalikan. Orang yang berpendidikan dan memiliki wewenang kebijakan justru menyalahgunakan hal tersebut demi kepentingan pribadi. Mereka mengorbankan kepentingan rakyat kecil. Novel ini mencerminkan dari keadaan sosial di masyarakat. Rakyat kecil yang hidup diantara kepentingan pribadi para penguasa. Hal lain yang menjadi bagian dari keterbalikan keadaan ini adalah apa yang dirasakan tokoh Lasi. Walaupun Lasi berada pada keadaan hidup yang mewah, tetapi ia tidak merasakan keindahan hidup yang sebenarnya. Ia merasakan hidup seperti dalam angan-angan.

2. Tokoh dan Penokohan                                                          
a)      Lasi                         : Lugu, sederhana, setia, penurut, mudah ditipu.
b)      Kanjat                     : Pandai, setia, sederhana, rela berkorban.
c)      Pak Bambung         : Licik, haus akan kekuasaan, gila wanita, tega.
d)     Handarbeni             : Haus akan kekuasaan dan materi, keras kepala, pemarah.
e)      Bu Lanting             : Materialistik, genit, suka menipu, licik.
f)       Eyang Mus             : Baik hati, sederhana, bijaksana.
g)      Pak Min                  : Sederhana, patuh pada atasan, penganut paham kejawen.
h)      Bu Min                   : Cerewet, baik hati, suka menolong.
i)        Pardi                       : Cekatan, suka menolong.
j)        Blakasuta                : Suka menolong, baik hati.

3. Latar                                       
            Latar adalah latar belakang terjadinya cerita. Latar dibagi menjadi empat, yaitu latar waktu, tempat, sosial dan suasana.
1)      Waktu
Novel Belantik (Bekisar Merah II) ini memiliki latar waktu yang cukup lama. Beberapa data yang terdapat dalam novel ini meunjukkan novel ini bersetingkan waktu antara tahun 1966 sampai dengan tahun1970-an.
“Sementara pemerintah baru Indonesia yang tak punya modal dan kurang pengalaman… padahal kebutuhan akan petrodollar dalam jumlah besar sudah sangat mendesak untuk menegakkan kekuasaaan Orde baru. (hal. 41)
Adalah seorang wartawan senior yang pada awal 70-an sangat gigih menggugat ketidakberesan dalam masalah minyak ini.(hal. 42)
Dari keterangan di atas dapat ditarik permasalahan bahwa kekuasaan Orde Baru dimulai ketika presiden Sukarno turun yaitu tahun 1966. Dan ada informasi mengenai kasus penggugatan   ketidakberesan masalah minyak sekitar tahun 1970-an.


2)      Tempat
Ø  Jakarta       : Perkantoran, perumahan elite di timur Bundaran HI.
Ø  Singapura  : Pusat perbelanjaan, hotel.
Ø  Karangsoga: Rumah Lasi, rumah Eyang Mus, Musholla.
Ø  Di dalam kapal yang sedang berlayar dari Karangsoga menuju Sulawesi.
Novel Belantik (Bekisar Merah II) memiliki latar tempat yang dominan berada di Jakarta. Memang tidak hanya Jakarta saja yang menjadi latar tempat pada novel ini. Tetapi Jakarta adalah latar yang paling sering disebutkan. Hal ini terlihat dari beberapa kutipan yang dinyatakan secara implisit maupun eksplisit.
“Sebetulnya ibu mau kemana? Atau hanya mau putar-putar? Atau mau ke Pantai Ancol? Kalau ya, saya mau menemani ibu.”
“Antar saya ke Cikini.” (hal 64)
            Walaupun secara tidak langsung percakapan di atas menyebutkan nama daerah tertentu. Tetapi terdapat kata kunci yang spesifik menunjukkan nama suatu kota. Pantai Ancol dan Cikini adalah simbol dari sebuah kota yaitu Jakarta. Terdapat juga petunjuk yang secara langsung menyebutkan bahwa Jakarta merupakan tempat yang sering disebut.
... konon dialah yang mengatur siasat dan kongkalikong, sehingga pintu untuk  masuknya petrodolar ke Jakarta sesudah bung Karno tersingkir terbuka. (hal 6).
keterangan lain yang menunjukkan keterangan tentang tempat adalah
Lasi duduk tak tenang di beranda rumahnya yang megah di Slipi, Jakarta Barat.(hal 21-22).

3)      Sosial
            Latar sosial novel ini adalah kehidupan di Ibukota yang keras. Keadaan lingkungan yang tidak seperti di desa yang penuh keramahan. Hal ini sangat dirasakan oleh tokoh Lasi. Perbedaan itu dirasakannya ketika bertempat tinggal di Slipi. Berbeda dengan keadaan desa Karangsoga yang penuh keramahan dan kekeluargaan. Ketika tinggal di Slipi Lasi hanya merasakan kesepian dan kemasyarakatan yang kurang ramah. Keadaan sosial lain adalah bahwa kehidupan di Jakarta berorientasi pada materi. Apapun akan dilakukan untuk mendapatkan materi. Apa yang dilakukan Bu Lanting, Bambung, dan Handarbeni adalah cerminan kedudukan mampu menjadikan semuanya halal. Apapun mereka lakukan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
4.  Latar suasana                     :
Ø  Menyedihkan        : Terjadi ketika penulis menceritakan jalan hidup Lasi sejak ia menikah dengan Darsa hingga ia menjadi simpanan Pak Bambung.
Ø  Mengharukan        : Terjadi pada saat Lasi menikah dengan Kanjat dan pada saat pertemuan Lasi dengan Kanjat di Rutan.
Ø  Menegangkan       : Terjadi pada saat penangkapan Lasi di dalam kapal oleh polisi.
Ø  Membahagiakan   : Terjadi pada saat Lasi mengetahui bahwa ia hamil anak Kanjat dan pada saat Lasi diputuskan bebas oleh pihak kepolisian.

4. Alur                                 
            Novel ini menggunakan alur maju, karena diawali dengan perkenalan para tokoh kemudian dilanjutkan dengan jalan hidup tokoh.
NovelBelantik (Bekisar Merah II) memiliki alur maju.Pengarang mengisahkan rangkaian cerita dalam lima tahap.
a.    Pengenalan tokoh
            Lasiadalahgadisdesa.IamerupakangadisketurunanJawa-Jepang. Iapergike Jakarta karenakecewadenganDarsa. Suaminya yang tegamenghianatinya.Di Jakarta LasiditampungolehbuLanting.Seorangmucikarikelasatas.BerkatcampurtanganbuLanting, LasimenjadiistriHandarbeni.Seorangpurnawirawan yang berprofesisebagaidirekturperusahaandanjugapolitisi.
b.    Pemunculan konflik
            Bambung adalah seorang pelobi handal di ibukota. Relainya yang kuat membuat Bambung disegani banyak orang. Tak berbeda dengan Handarbeni, Bambung juga seorang priyayi Jawa yang memiliki banyak wanita simpanan. Pertemuannya dengan Handarbeni yang pada saat bersamaan menggandeng Lasi membat Bambung tertarik dengan Lasi. Ketertarikan Bambung itu membuatnya melakukan segala cara untuk mendapatkan Lasi. Bambung yang memiliki kemampuan diplomasi yang dikenal kuat dan mengikat meminta Handarbeni untuk melepaskannya. Suatu tawaran yang berat untuk Handarbeni. Di satu sisi Handarbeni begitu mencintai Lasi karena Lasi begitu istimewa. Lasi berbeda dengan wanita lain yang pernah dinikahi Handarbeni. Tetapi di satu sisi, menolak permintaan Bambung sama saja mengamcam posisi kariernya. Bambung yang memiliki relasi orang-orang kuat tentu akan dengan mudah mendepak Handarbeni dari posisi jabatannya.
c.    Peningkatan konflik
            Handarbeni menceraikan Lasi. Handarbeni lebih memilih mengamankan jabatannya. Dengan bantuan bu Lanting yang mengatur pertemuan antara Lasi dan Bambung di Singapura. Bambung dengan keahliannya merayu wanita memberikan beberapa barang untuk mendapatkan perhatian Lasi. Lasi adalah wanita yang setia. Walaupun ia sebagai bekisar, ia tetap memiliki karakter wanita jawa yang santun. Kekecewaannya pada Handarbeni karena telah menceraikannya membuat dia merasa sedih. Kehidupannya seperti tidak bermakna. Secara materi ia merasakan kenikmatan dengan harta yang melimpah. Tetapi secara batin ia merasa tersiksa. Banyak hal yang dirasakannya tidak ada artinya.
d.   Klimaks
            Lasimemutuskankaburdari Jakarta.Meski Bu LantingmengancambahwaBambungdapatmenangkapLasikemanapundialari, LasitetapnekatpergidarirumahHandarbenipulangkekampunghalamannya.Tak lama di Karangsoga, Lasimemutuskanuntukbersembunyi di rumahpamannya di Sulawesi Tengah.LasimemintakesediaanKanjatmengantarkePalu.Akhirnya, atasnasihatEyangMus, orang yang dituakan di Karangsoga, LasidanKanjatdinikahkansebelumberangkatkePalu.




5. Gaya bahasa                  
            Gaya bahasa penulis banyak menggunakan kata-kata konotasi dalam penyampaian jalan ceritanya. Selain itu banyak menggunakan istilah-istilah tidak baku. Penulis juga menyisipkan pepatah-pepatah Jawa untuk menyelaraskan dengan jalan cerita.

6. Sudut pandang                 
Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu.

7.  Amanat                             
Ø  Berpikirlah sebelum bertindak sesuatu, janganlah terlalu menuruti kemauan orang lain. Kita harus tahu mana yang baik untuk dilakukan dan mana yang tidak.
Ø  Kekuasaan dan materi bukanlah segalanya. Janganlah kita menghalalkan segala cara demi memuaskan nafsu duniawi kita, karena akibatnya akan sia-sia.
Ø  Menjaga kesuciaan bagi wanita adalah hal yang sangat penting untuk menghormati suami.

C. Unsur-Unsur Ekstrinsik Belantik (Bekisar Merah II)

1. Nilai Sosial / Kemasyarakatan
            Ketika Lasi diajak pak Bambung pada acara pertemuan dengan para pejabat-pejabat tinggi yang dihadiri oleh duta besar, Lasi dapat menyesuaikan diri layaknya seorang wanita kelas tinggi, meskipun lasi sebenarnya hanya berasal dari desa dan kurang berpendidikan.

2. Nilai Kejiwaan / Psikologi
            Ketika Lasi sedang mengandung anak dari Kanjat, Bulanting menyuruh Lasi untuk menggugurkan kandungannya. Ketika itu Lasi merasa sangat terpuruk dan batinnya tertekan karena Lasi tidak ingin menggugurkan kandungannya yang selama ini Lasi tunggu-tunggu. Namun, Bulanting tetap memaksa Lasi untuk menggugurkan kandungan tersebut karena pak Bambung menginginkan Lasi untuk menemaninya.
3. Nilai Budaya
            Ketika Lasi hidup di Karangsoga hidupnya sederhana, mata pencaharian suami Lasi  hanya seorang penyadap gula aren. Namun setelah Lasi pergi ke Jakarta dan bertemu dengan Bulanting hidupnya berubah , gaya hidup Lasi menjadi serba mewah layaknya wanita sosialita.

4. Nilai Ekonomi
            Ketika Lasi  hidup di karangsoga  ekonominya tergolong miskin, Lasi hanya mempunyai penghasilan dari mata pencahariannya membuat gula aren, setelah Lasi kabur ke Jakarta dan bertemu dengan Bulanting hidupnya menjadi serba kecukupan dan bergaya hidup mewah.






BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
            Setelah kita menguraikan unsur-unsur yang terdapat novel Belantik (Bekisar Merah II) kita dapat memetik pelajaran dari lika-liku kehidupan Lasi. Diantaranya hendaklah kita berpikir sebelum bertindak sesuatu, janganlah terlalu menuruti kemauan orang lain. Kita harus tahu mana yang baik untuk dilakukan dan mana yang tidak. Kekuasaan dan materi bukanlah segalanya.

B.     SARAN
            Setelah kita membaca novel Belantik (Bekisar Merah II) hendaknya kita dapat mengambil hikmah atas kejadian yang menimpa Lasi. Janganlah kita menghalalkan segala cara demi memuaskan nafsu duniawi kita, karena akibatnya akan sia-sia.Menjaga kesuciaan bagi wanita adalah hal yang sangat penting untuk menghormati suami.







DAFTAR PUSTAKA

Wibowo, Sigit. 2012. Analisis struktur dan Gagasan Novel Belantik (Bekisar Merah II)Karya Ahmad Tohari Dengan Pendekatan Semiotik. Diakses pada tanggal 23 November 2014

Hidayati, Amalia Safitri. 2014. Analisis Novel Belantik (Bekisar merah II). Diakses pada tanggal 23 November 2014

Tohari, Ahmad. 2001. Belantik (Bekisar Merah II).PT Gramedia Pustaka Utama



Tidak ada komentar:

Posting Komentar