Kamis, 31 Desember 2015

SEPENGGAL CERITA ANAK JALANAN


          Duduk santai di bawah pohon rindang ditemani ice cream yang begitu menggoda untuk segera ku santap, lumer meleleh sebelum ku mulai menyantapnya. Tiba-tiba seorang anak kecil menghampiriku, ia memelas meminta uang yang katanya untuk makan, dengan nada memelasnya meminta belas kasihan dariku karena ia belum makan selama 2 hari. Aku berpikir, ah masa iya anak itu belum makan selama 2 hari, kalau belum makan selama 2 hari mungkin saat ini ia sudah lemas tak berdaya, sudah tak mampu untuk berjalan meminta-minta belas kasihan dari orang-orang.

          “Duduk dulu de, mau ice cream?” Tanyaku ramah.
          “Mau ka.”
Akhirnya ice cream ku berikan pada anak kecil yang terlihat lebih menginginkan ice cream  yang belum sempat ku santap itu. Ia terlihat sangat menikmatinya. Sembari ia menikmati ice cream yang ku berikan, akupun bertanya beberapa hal padanya. Dari beberapa pertanyaan yang aku tanyakan dapat disimpulkan bahwa ia adalah anak jalanan yang selalu meminta-minta belas kasihan dari orang-orang dermawan. Ternyata ia setiap hari disuruh orang tuanya untuk meminta-minta dikeramaian alun-alun kota, di pasar dan juga  di jalanan. Sebut saja ia adalah seorang pengemis. Menurut cerita yang ia katakan kepadaku, ia disuruh menjadi pengemis oleh orang tuanya sendiri. Ketika ia tak mendapatkan standar minimal uang yang harus diperoleh dari hasil mengemis, ia akan mendapat hukuman dari orang tuanya, terkadang dijewer telinganya, dibanjur air satu ember, dan masih banyak lagi macam-macam siksaan yang pernah ia terima.
          Nama anak itu adalah Doni, ia berkulit hitam, mungkin karena terlalu sering mengemis dibawah terik mentari. Ia berusia 7 tahun. Sungguh miris ketika aku tahu keseharian dia yang dipaksa untuk mengemis demi menghindari hukuman dari orang tuanya. Hatiku tergerak untuk memberikan sedekah kepadanya agar memenuhi standar penghasilannya hari ini. Ia pun bersorak bergembira serta mengucapkan berkali-kali terimakasih kepadaku, yang membuatku tak kuasa menahan air mata yang telah memenuhi kelopak mata. Sungguh malang sekali nasib Doni, anak yang masih berumur 7 tahun. Seharusnya ia mengenyam pendidikan, tapi bertolak belakang dengan harapan. Ia terpaksa harus menjadi seorang pengemis demi memenuhi kebutuhan hidupnya serta demi terhindar dari hukuman orang tuanya.
          “Aku bersyukur pada-Mu ya Allah.” (Gumamku dalam hati, mengucap syukur atas nikmat yang telah Allah berikan padaku).
Bincang-bincang yang sedikit menyita waktunya, akhirnya diakhiri dengan sunggingan senyum kebahagiaan nan indah dengan lesung pipit yang ia miliki. Begitu juga denganku, aku merasa bahagia ketika bisa melihat orang lain tersenyum bahagia karena sesuatu yang ku lakukan. Kini ia melanjutkan perjalanannya untuk mencari receh demi receh dari orang-orang yang berempati terhadapnya. Dari orang-orang yang mau menyisihkan rezekinya untuk seorang pengemis kecil itu.
          “Hey, jangan bengong.”
Tiba-tiba sesosok makhluk nan imut mengagetkan dari samping kananku, ia adalah sahabat baikku bernama Lusi, ia memang berusia lebih dewasa dariku namun, dari postur tubuh ia terbilang kecil ditambah dengan wajahnya yang imut membuat orang-orang yang belum kenal dekat dengannya akan menyangka ia lebih muda dariku. Ah, umur bukan suatu masalah untuk berteman akrab dengannya, kita saling mengerti, memahahi sifat masing-masing. Kita begitu dekat, kita bersahabat sekitar 2 tahun, waktu yang cukup lama untuk saling memahami karakter satu sama lain.
          Aku bercerita tentang kejadian yang tadi aku alami, ia terharu mendengar ceritaku yang memang kuceritakan begitu dramatis. Ia memang satu-satunya sahabatku yang paling tinggi rasa sosialnya, selama aku bersahabat dengannya, berkali-kali kita bermain bersama, setiap kali ia melihat pengemis tak pernah satu kalipun tak memberi sedekah, berapapun jumlah sedekah yang ia berikan,  iya merasa senang karena bisa berbagi dengan sesama meski hanya sebuah koin receh yang hanya bisa dibelikan permen berbentuk kaki. Berbeda denganku yang selalu pilih-pilih pengemis yang akan aku kasih sedekah, aku selalu curiga dengan pengemis-pengemis yang berkeliaran di keramaian kota, dengan berbagai atribut yang mereka kenakan, ada yang memakai perban seolah ia luka parah, ada yang menggendong bayi, ada yang hanya duduk saja karena ia lumpuh, padahal bisa saja pengemis-pengemis itu hanya berpura-pura demi menyedot perhatian orang-orang dermawan yang berlalu lalang. Aku memang berpikir negatif, tapi menurutku waspada lebih baik, banyak berita di televisi yang memberitakan banyak pengemis-pengemis palsu, dengan berbagai alasan yang ia lontarkan hanya untuk menarik belas kasihan dari para dermawan yang berhati lembut. Jujur saja aku lebih menghargai pengamen daripada pengemis, karena aku lebih menyukai orang-orang yang berusaha dengan cara yang lebih elegan bukan dengan cara meminta-minta. Setidaknya seorang pengamen itu bisa menjual suaranya, jadi ada timbal balik antar pengamen dan pendengarnya. Pengamen menyumbang suara, sedangkan pendengar menyumbang rupiah.
          “Lus, gimana kalau kita selidiki pengemis yang tadi aku ceritakan?”
          “Ah kamu ini, buat apa?”
“Aku penasaran saja, apa benar anak itu selalu dihukum jika tak memenuhi standar        uang yang harus ia peroleh setiap harinya.”
“Ya, oke lah kalau begitu, tapi jangan sekarang ya, besok pagi saja bagaimana?”
          “Oke.”

***
       Senyuman mentari nan indah memberikan energi semangat untuk memulai aktivitasku. Hari ini aku berencana melakukan sebuah investigasi (ya biar keren lah), investigasi yang akan saya lakukan adalah menyelidiki anak kecil yang bernama Doni, yang sering berkeliaran untuk meminta-minta rupiah di keramaian kota. Tak lupa aku segera menghubungi Lusi yang sudah berjanji akan menemaniku untuk melakukan misi rahasia ini. Alhamdulliah Lusi tak lupa dengan janji yang telah ia katakan bahwa ia akan menemaniku. Akhirnya kita memutuskan untuk bertemu di alun-alun kota.
          “Hai, bagaimana nih langsung melakukan misi?”
          “Wiih,..Lusi semangat banget, udah seperti Detectif Conan saja.”
          “Ehhh, kan aku sahabat kamu, jadi selalu siap untuk membantu.”
          “Hahaa, terimakasih sahabtku.”
Setelah berbincang-bincang, kita siap untuk beraksi menjalankan misi rahasia. Aku menunggu anak yang menjadi objek penyelidikan.
          Tak lama kemudian anak itu datang dan kembali meminta-minta kepada orang-orang yang sedang nongkrong di alu-alun kota. Aku dan Lusi hanya memperhatikan dari balik pohon rindang yang tumbuh subur di tepi alun-alun kota. Ketika anak itu berpindah dari tempat satu ke tempat lain maka tak mau ketinggalan Aku dan Lusi terus membuntutinya.
          Tak terasa ternyata kita sudah sampai pada sebuah rumah megah di kampung pedalaman.
          “Sepertinya itu rumahnya?” Tanyaku terheran-heran.
“Iya, mungkin. Lihat saja ia begitu akrab bercengkrama dengan seorang wanita paruh baya beserta laki-laki yang terlihat lebih tua dari wanita itu”
“Tapi mereka begitu akrab, tak seperti yang anak itu ceritakan terhadapku.”
          “Ah, sudahlah mari kita selidiki saja.”
Usut punya usut, setelah berjam-jam melakukan penyelidikan, ternyata memang benar mereka satu keluarga ( Ayah, Ibu dan Anak). Apa yang anak itu ceritakan hanyalah sebuah kata-kata bohong belaka yang bertujuan untuk mengelabui korban agar bersedia memberikan sedekah terhadapnya. Sebenarnya mereka adalah keluarga yang mampu dalam hal ekonominya, terlihat sebuah mobil di garasi yang terletak sebelah kiri taman bunga yang begitu asri. Setelah menyelidik lebih dalam ternyata mereka memang bekerjasama untuk pura-pura menjadi orang miskin, dan merekayasa cerita bahwa jika ia tak memenuhi standar minimal rupiah yang diperoleh dari meminta-minta, maka ia akan dapat hukuman dari orang tuanya. Itu hanya bohong belaka.
         
“Ah aku tertipu dengan muka memelasnya.”
“Sudahlah, kita doa’kan saja. Semoga mereka segera bertaubat dan mau mencari rezeki dengan cara yang lebih baik.”


Ciamis, 19 Oktober 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar