Duduk santai di bawah pohon rindang
ditemani ice cream yang begitu menggoda untuk segera ku santap, lumer meleleh
sebelum ku mulai menyantapnya. Tiba-tiba seorang anak kecil menghampiriku, ia
memelas meminta uang yang katanya untuk makan, dengan nada memelasnya meminta
belas kasihan dariku karena ia belum makan selama 2 hari. Aku berpikir, ah masa
iya anak itu belum makan selama 2 hari, kalau belum makan selama 2 hari mungkin
saat ini ia sudah lemas tak berdaya, sudah tak mampu untuk berjalan
meminta-minta belas kasihan dari orang-orang.
“Duduk dulu de, mau ice cream?”
Tanyaku ramah.
“Mau ka.”
Akhirnya
ice cream ku berikan pada anak kecil yang terlihat lebih menginginkan ice
cream yang belum sempat ku santap itu.
Ia terlihat sangat menikmatinya. Sembari ia menikmati ice cream yang ku berikan,
akupun bertanya beberapa hal padanya. Dari beberapa pertanyaan yang aku
tanyakan dapat disimpulkan bahwa ia adalah anak jalanan yang selalu
meminta-minta belas kasihan dari orang-orang dermawan. Ternyata ia setiap hari
disuruh orang tuanya untuk meminta-minta dikeramaian alun-alun kota, di pasar
dan juga di jalanan. Sebut saja ia adalah
seorang pengemis. Menurut cerita yang ia katakan kepadaku, ia disuruh menjadi
pengemis oleh orang tuanya sendiri. Ketika ia tak mendapatkan standar minimal
uang yang harus diperoleh dari hasil mengemis, ia akan mendapat hukuman dari
orang tuanya, terkadang dijewer telinganya, dibanjur air satu ember, dan masih
banyak lagi macam-macam siksaan yang pernah ia terima.
Nama anak itu adalah Doni, ia berkulit
hitam, mungkin karena terlalu sering mengemis dibawah terik mentari. Ia berusia
7 tahun. Sungguh miris ketika aku tahu keseharian dia yang dipaksa untuk
mengemis demi menghindari hukuman dari orang tuanya. Hatiku tergerak untuk
memberikan sedekah kepadanya agar memenuhi standar penghasilannya hari ini. Ia
pun bersorak bergembira serta mengucapkan berkali-kali terimakasih kepadaku,
yang membuatku tak kuasa menahan air mata yang telah memenuhi kelopak mata.
Sungguh malang sekali nasib Doni, anak yang masih berumur 7 tahun. Seharusnya
ia mengenyam pendidikan, tapi bertolak belakang dengan harapan. Ia terpaksa
harus menjadi seorang pengemis demi memenuhi kebutuhan hidupnya serta demi
terhindar dari hukuman orang tuanya.
“Aku bersyukur pada-Mu ya Allah.”
(Gumamku dalam hati, mengucap syukur atas nikmat
yang telah Allah berikan padaku).
Bincang-bincang
yang sedikit menyita waktunya, akhirnya diakhiri dengan sunggingan senyum kebahagiaan
nan indah dengan lesung pipit yang ia miliki. Begitu juga denganku, aku merasa
bahagia ketika bisa melihat orang lain tersenyum bahagia karena sesuatu yang ku
lakukan. Kini ia melanjutkan perjalanannya untuk mencari receh demi receh dari
orang-orang yang berempati terhadapnya. Dari orang-orang yang mau menyisihkan
rezekinya untuk seorang pengemis kecil itu.
“Hey, jangan bengong.”
Tiba-tiba
sesosok makhluk nan imut mengagetkan dari samping kananku, ia adalah sahabat
baikku bernama Lusi, ia memang berusia lebih dewasa dariku namun, dari postur
tubuh ia terbilang kecil ditambah dengan wajahnya yang imut membuat orang-orang
yang belum kenal dekat dengannya akan menyangka ia lebih muda dariku. Ah, umur
bukan suatu masalah untuk berteman akrab dengannya, kita saling mengerti,
memahahi sifat masing-masing. Kita begitu dekat, kita bersahabat sekitar 2 tahun,
waktu yang cukup lama untuk saling memahami karakter satu sama lain.
Aku bercerita tentang kejadian yang
tadi aku alami, ia terharu mendengar ceritaku yang memang kuceritakan begitu
dramatis. Ia memang satu-satunya sahabatku yang paling tinggi rasa sosialnya,
selama aku bersahabat dengannya, berkali-kali kita bermain bersama, setiap kali
ia melihat pengemis tak pernah satu kalipun tak memberi sedekah, berapapun jumlah
sedekah yang ia berikan, iya merasa senang
karena bisa berbagi dengan sesama meski hanya sebuah koin receh yang hanya bisa
dibelikan permen berbentuk kaki. Berbeda denganku yang selalu pilih-pilih
pengemis yang akan aku kasih sedekah, aku selalu curiga dengan
pengemis-pengemis yang berkeliaran di keramaian kota, dengan berbagai atribut
yang mereka kenakan, ada yang memakai perban seolah ia luka parah, ada yang
menggendong bayi, ada yang hanya duduk saja karena ia lumpuh, padahal bisa saja
pengemis-pengemis itu hanya berpura-pura demi menyedot perhatian orang-orang
dermawan yang berlalu lalang. Aku memang berpikir negatif, tapi menurutku
waspada lebih baik, banyak berita di televisi yang memberitakan banyak
pengemis-pengemis palsu, dengan berbagai alasan yang ia lontarkan hanya untuk
menarik belas kasihan dari para dermawan yang berhati lembut. Jujur saja aku
lebih menghargai pengamen daripada pengemis, karena aku lebih menyukai
orang-orang yang berusaha dengan cara yang lebih elegan bukan dengan cara
meminta-minta. Setidaknya seorang pengamen itu bisa menjual suaranya, jadi ada
timbal balik antar pengamen dan pendengarnya. Pengamen menyumbang suara, sedangkan
pendengar menyumbang rupiah.
“Lus, gimana kalau kita selidiki
pengemis yang tadi aku ceritakan?”
“Ah kamu ini, buat apa?”
“Aku
penasaran saja, apa benar anak itu selalu dihukum jika tak memenuhi standar uang yang harus ia peroleh setiap
harinya.”
“Ya,
oke lah kalau begitu, tapi jangan sekarang ya, besok pagi saja bagaimana?”
“Oke.”
***
Senyuman mentari nan indah
memberikan energi semangat untuk memulai aktivitasku. Hari ini aku berencana
melakukan sebuah investigasi (ya biar keren lah), investigasi yang akan saya
lakukan adalah menyelidiki anak kecil yang bernama Doni, yang sering
berkeliaran untuk meminta-minta rupiah di keramaian kota. Tak lupa aku segera
menghubungi Lusi yang sudah berjanji akan menemaniku untuk melakukan misi
rahasia ini. Alhamdulliah Lusi tak lupa dengan janji yang telah ia katakan
bahwa ia akan menemaniku. Akhirnya kita memutuskan untuk bertemu di alun-alun
kota.
“Hai, bagaimana nih langsung melakukan
misi?”
“Wiih,..Lusi semangat banget, udah
seperti Detectif Conan saja.”
“Ehhh, kan aku sahabat kamu, jadi
selalu siap untuk membantu.”
“Hahaa, terimakasih sahabtku.”
Setelah
berbincang-bincang, kita siap untuk beraksi menjalankan misi rahasia. Aku
menunggu anak yang menjadi objek penyelidikan.
Tak lama kemudian anak itu datang dan
kembali meminta-minta kepada orang-orang yang sedang nongkrong di alu-alun kota.
Aku dan Lusi hanya memperhatikan dari balik pohon rindang yang tumbuh subur di
tepi alun-alun kota. Ketika anak itu berpindah dari tempat satu ke tempat lain
maka tak mau ketinggalan Aku dan Lusi terus membuntutinya.
Tak terasa ternyata kita sudah sampai
pada sebuah rumah megah di kampung pedalaman.
“Sepertinya itu rumahnya?” Tanyaku
terheran-heran.
“Iya,
mungkin. Lihat saja ia begitu akrab bercengkrama dengan seorang wanita paruh baya
beserta laki-laki yang terlihat lebih tua dari wanita itu”
“Tapi
mereka begitu akrab, tak seperti yang anak itu ceritakan terhadapku.”
“Ah, sudahlah mari kita selidiki
saja.”
Usut
punya usut, setelah berjam-jam melakukan penyelidikan, ternyata memang benar
mereka satu keluarga ( Ayah, Ibu dan Anak). Apa yang anak itu ceritakan
hanyalah sebuah kata-kata bohong belaka yang bertujuan untuk mengelabui korban
agar bersedia memberikan sedekah terhadapnya. Sebenarnya mereka adalah keluarga
yang mampu dalam hal ekonominya, terlihat sebuah mobil di garasi yang terletak
sebelah kiri taman bunga yang begitu asri. Setelah menyelidik lebih dalam
ternyata mereka memang bekerjasama untuk pura-pura menjadi orang miskin, dan
merekayasa cerita bahwa jika ia tak memenuhi standar minimal rupiah yang
diperoleh dari meminta-minta, maka ia akan dapat hukuman dari orang tuanya. Itu
hanya bohong belaka.
“Ah
aku tertipu dengan muka memelasnya.”
“Sudahlah,
kita doa’kan saja. Semoga mereka segera bertaubat dan mau mencari rezeki dengan
cara yang lebih baik.”
Ciamis,
19 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar