Pagi yang mencekam dikarenakan hujan
yang begitu deras diiringi petir yang saling berlomba memancarkan cahaya kilat,
sungguh begitu mencekam dengan awan yang menyeramkan, hitam kelam yang tak
sedikitpun memancarkan aura keindahannya. Hari ini adalah hari dimana seluruh
mahasiswa semester dua jurusan “Sastra Indonesia” meluncurkan buku antologi puisi, kalau bahasa
kerennya sih launching buku, Ceileeh gaya banget ya? Maklum di jurusan Sastra
Indonesia ada tradisi launching buku, itu dilakukan agar mahasiswa mempunyai
karya sebagai bukti bahwa mahasiswa itu produktif. Dalam acara launching buku
ini ada beberapa hiburan yang dipersembahkan oleh mahasiswa, diantaranya
pembacaan puisi, musikalisasi puisi dan teaterikal. Meskipun cuaca diluar tak
mendukung, akan tetapi acara ini berlangsung dengan meriah, karena acara
dilaksanakan di dalam ruangan, jadi cuaca buruk tak menjadi penghalang.
“Selamat
pagi..mahasiswa yang luar biasa....” Seorang dosen cantik memberikan sapaan hangat sebagai pembawa acara.
“Luar biasa..cantiknya.” Radit melongo
melihat dosen cantik itu.
“Hey..Radit biasa aja kalliii.” Ujar
Sinta sambil menepuk pundaknya.
“Sin,
sepertinya aku pernah lihat dosen cantik itu dimana ya kira-kira?”
“Ah,
kamu gimana sih, dia kan yang pernah diperkenalkan oleh ketua program studi,
waktu kita ospek.”
“Oh
iya benar waktu kita ospek, hahaa aku udah pikun nih. Tapi namanya siapa ya? Aku lupa hehhee.
“Namanya ibu Rosalinda, dia belum
nikah loh..”
“Bagus
lah kalau belum nikah, jadi masih ada kesempatan untuk dekatin dia”
“Gx
usah mimpi Radit.., mana mungkin dosen secantik dia suka sama kamu, dia itu pasti mencari
seseorang yang strata pendidikannya lebih tinggi dari dia atau setidaknya sama lah dengan dia, bukan seorang
mahasiswa kaya kamu ha ha ha.”
“Ah, liat saja nanti, aku pasti bisa
mendapatkannya.”
***
Semenjak hari itu, Radit selalu
memperhatikan setiap gerak-gerik dosen cantik itu yang tak lain mempunyai nama
yang indah yaitu Rosalinda, disetiap ada kesempatan melihat wajahnya yang
cantik dan menawan, Radit tak pernah lupa untuk mengabadikan wajahnya dalam
sebuah foto. Sehingga foto-foto Rosalinda yang Radit dapatkan dibingkai dalam
sebuah album foto nan cantik. Radit sadar kalau saat itu Rosalinda tak
mengenalinya, karena sosok Radit bukanlah mahasiswa yang suka eksis ketika ada
agenda acara yang diselenggarakan oleh pengurus-pengurus program studi, tapi ia
yakin bahwa suatu saat nanti ia akan menjadi seseorang yang terkenal karena
prestasinya. Maka dari itu ia bertekad untuk menjadi seorang penulis
profesional agar ia dapat mengubah dunia dan menjadi terkenal diberbagai
belahan dunia.
***
Tekadnya yang kuat untuk menjadi
seorang penulis dibuktikannya dengan selalu rajin menulis disetiap ada
kesempatan. Tulisan yang ia tulis terklasifikasi kedalam berbagai karya
seperti: artikel, puisi, cerpen dan novel. Buah dari ketekunannya dalam bidang tulis
menulis, kini Radit terkenal dengan berbagai karya tulisan yang ia hasilkan,
kini nama Radit sudah tak asing lagi dikalangan mahasiswa ataupun dosen, bahkan
seantero duniapun tahu bahwa Radit adalah seorang penulis terkenal, termasuk
Rosalindapun tahu akan hal itu.
***
Hari ini adalah hari ulang tahun Rosalinda
seorang dosen cantik nan menawan itu, Radit merasa bimbang haruskah ia memberi
sebuah kejutan ulang tahun atau hanya memberikan sebuah kado, atau tidak usah
sama sekali. Ada kecemasan dalam dirinya ketika ia memberikan sebuah kado lalu
kado itu dibuang begitu saja atau mungkin tidak diterima sama sekali. Berpikir
dan terus berpikir hingga akhirnya ia menemukan solusi yang cukup cemerlang.
Solusinya adalah ia akan berpura-pura menjadi seorang petugas pengantar paket
untuk memberikan kado yang sudah ia siapkan untuk dosen cantik itu.
“Selamat pagi Bu”
“Selamat pagi”
“Apa benar ini ibu Rosalinda?”
“Iya benar.”
“Maaf Bu, ini ada kiriman paket untuk
ibu.”
“Paket dari siapa ya mas?”
“Maaf bu, pengirim meminta saya untuk
merahasiakan namanya.”
“Oh ya sudah tak apa, terimakasih ya.”
“Iya bu, sama-sama.”
Tanpa basa-basi Radit langsung pamit
utuk melanjutkan tugas sebagai tukang pengantar paket (Padahal hanya
pura-pura). Dari kejauhan Radit memperhatikan Rosalinda yang sedang membuka
kado yang telah diterimanya. Terlihatlah wajah Rosalinda terheran-heran dengan
kado yang ia terima, kado itu berisi sebuah album foto dirinya dengan berbagai
pose-pose natural namun tetap cantik, di dalam bingkisan kado tersebut juga
terselip sepucuk surat yang berisi sebuah puisi.
Pesonamu
Kau adalah bintang yang hadir disaat
malam tiba
Kau adalah pelangi yang hadir setelah
hujan
Kau adalah cahaya yang hadir setelah
gelap
Kau indah
Kau menawan bak bunga mawar yang
merekah
Kau adalah cinta
Kau adalah idaman
Tunggu aku untuk menjemputmu
Dalam balutan ijab halalku
Ciamis,
15 April 2014
“Seseorang
yang mencintaimu”
***
2 tahun sudah aku memperhatikan dosen
cantik itu, mungkin kini tiba saatnya memberanikan diri untuk menyatakan cinta
kepadanya, bukan hanya sekedar menyatakan cinta, tapi lebih dari itu. Apa
maksudnya? Ya, aku akan melamarnya. Meskipun aku masih kuliah, tapi aku punya
pekerjaan karena meneruskan perusahaan orang tua, ditambah dengan penghasilan
dari bidang tulis menulis. Dengan hati yang gugup dan was-was karena takut tak
diterima, aku mencoba tenang dan langsung menemui dosen cantik itu yang sedang
berada di ruangan santai untuk para dosen.
“Permisi, boleh saya masuk?”
“Iya,
silahkan masuk, mau bertemu dengan siapa?” Tanya dosen cantik itu
“Mau bertemu dengan ibu Rosalinda.”
Sambil tersenyum
“Dengan saya? Ada perlu apa?” Tanyanya
heran
“Saya
mau menyatakan sebuah pengakuan terhadap ibu Rosalinda.”
“Pengakuan?Mengenai apa?”
“Sebenarnya
yang dulu memberikan paket yang berisi album foto adalah saya, dan yang menjadi tukang pengantar paket adalah saya sendiri, saya
menyamar menjadi tukang pengantar
paket agar ibu tidak mengenali saya sebagai mahasiswa ibu, saya sudah
memperhatikan ibu sejak lama, saya sangat mencintai ibu, bersediakah ibu dosen
yang cantik ini menikah denganku?” Sambil memberikan cincin.
“Sebelumnya,
saya mengucapkan terimakasih atas pemberian album fotonya, tapi saya mohon maaf, saya tidak bisa
menerima Anda, saya sudah ada yang menghkhitbah, bulan depan saya akan
melangsungkan pernikahan dengan seorang pria yang sangat saya cintai, yaitu bapak
Rizal seorang dosen di universitas ini juga.”
Tanpa
kata aku pergi dari ruangan dosen itu, tak kuat menahan rasa sakit hati ini,
banyak yang bilang seorang laki-laki tak boleh cengeng tapi ini bukan masalah cengeng.
Ini terlalu sakit untuk dirasakan, sekian tahun menunggu waktu yang tepat untuk
menyatakan cinta kepada dosen cantik itu, tapi kini hatiku telah hancur. Dosen
cantik itu ternyata akan segera menikah. Dosen cantik itu menolak cintaku yang
telah lama ku pendam baik-baik didalam hati yang paling dalam. Sekarang aku
hanya bisa berharap, semoga album foto yang telah kuberikan saat ia ulang tahun
itu masih tersimpan sebagai album cinta
dariku.
Ciamis,
29 februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar