Suatu
hari di kampus Universitas Galuh Ciamis ada sebuah acara perlombaan yang
diselenggarakan oleh salah satu prodi di kampus tersebut. Adapun macam-macam
perlombaan yang diselenggarakan antara lain: Lomba musikalisasi puisi, lomba
vocal grup, desain grafis dan lomba menulis cerpen . Lomba tersebut di ikuti
oleh seluruh mahasiswa prodi itu, dengan ketentuan perlombaan tiap kelas harus
ikut berpartisipasi dalam perlombaan itu, ada yang berbentuk kelompok ataupun
perorangan yang penting setiap kelas mengirimkan perwakilan untuk mengikuti
setiap perlombaan yang diselenggarakan oleh prodi.
“Guys,
untuk perlombaan musikalisasi puisi dan vocal grup besok, kita ngambil konsep
tradisional khas sunda ya, konsepnya cewek pake kebaya dan jarit , cowok pake
baju hitam dan celana hitam. Nah, untuk cewek jadi gx usah pake kerudung.
Gimana setuju gx?? ”. (Kata Jesika memecah keheningan kelas).
“Setujuuu...”
(sorak teman-teman satu kelas).
“Pake
kerudung aja..”. (Riani mengelak usulan Jesika).
“Ya
ampun..., Riani, kita itu besok pake kebaya masa harus pake kerudung, ya gx
cantik atuh...”.
“Astagfirulloh....Jesika.
Pakai kerudung juga tetap cantik ko, kan sudah seharusnya perempuan itu memakai
kerudung, karena itu kewajiban seorang muslimah. (Bantah Riani, dengan nada
rendah).
“Yaellaahh...
hanya untuk event ini aja, kompak donk.. yang lain juga pada setuju”. (Bentak
Jesika).
“Ya
sudah, kalau tetap harus melepas kerudung saya tidak ikutan untuk lomba
musikalisasi puisi dan vocal grup. Saya ikut lomba yang lain saja”.
“Ya
udah..sok mau ikut lomba apa?”
“Lomba
menulis cerpen saja”
“Hahaaa...
memangnya kamu bisa menulis cerpen?”
“Insya
Allah..” (Riani tersenyum).
Percakapanpun berakhir dengan
keputusan Riani tidak diikutsertakan dalam perlombaan musikalisasi puisi dan
vocal grup. Ia hanya ikut serta dalam perlombaan menulis cerpen, dikarenakan
Riani tidak mau kalau harus menaggalkan kerudungnya hanya demi sebuah event.
Riani lebih takut dengan laknat Allah jika harus menanggalkan kerudungnya,
karena sesungguhnya wanita itu diwajibkan untuk menutup auratnya.
**
Tiba saatnya untuk pengumuman
pemenang lomba yang dilaksanakan antar kelas itu, dan ternyata perlombaan yang
dimenangkan oleh kelas Riani yaitu kelas 2A hanyalah lomba menulis cerpen yang
tidak lain penulis cerpen tersebut adalah Riani.
“Rin,
loe hebat juga yah, bisa menjadi juara satu dalam penulisan cerpen, selamat
ya...kami bangga atas kemenanganmu, karena kemenanganmu adalah kemenangan kelas
juga”. (Kata salah seorang teman sekelasnya).
“Makasih...
alhamdulillah allah memberikan kepercayaan terhadap saya, mungkin ini sebuah
hadiah untuk saya, karena saya tetap mempertahankan untuk tidak menanggalkan
hijab saya hanya demi event ini”. (Jawab Riani dengan senyuman).
“Haalaaah...
itu Cuma kebetulan saja”.( Jesika mengelak).
“hmm”.
(Riani tersenyum.)
“Tapi
sepertinya itu memang benar-benar hadiah dari Allah untuk Riani, karena dia
mampu mempertahankan prinsipnya memakai hijab, aku salut sama kamu Riani”. (Ujar
teman sekelasnya).
“Heee...
alhamdulillah terimakasih sahabatku”. (Jawab Riani dengan senyuman).
“Sudahlah
tidak usah dibahas lagi, tidak penting”. (Ujar Jesika).
Akhirnya perbincangan itu berakhir
dengan kebahagiaan yang terpancar pada raut wajah Riani karena ia dapat
membuktikan bahwa dengan berhijabpun ia bisa berprestasi dalam bidang
kreatifitas menulis cerpen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar