Kamis, 06 November 2014

Kajian Cerpen "Dua Hati Menyatu"


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Pada abad ini selalu terdapat ikatan-ikatan erat antara ilmu bahasa dan ilmu sastra. Banyak sekali teori-teori sastra yang dapat digunakan, salah satunya yaitu teori sastra strukturalisme.  “Dalam ilmu sastra pengertian “Strukturalisme” sudah dipergunakan dengan berbagai cara. Yang dimaksudkan dengan istilah “struktur” ialah kaitan-kaitan tetap antara kelompok-kelompok gejala (Hartoko,1992:36).

Maka dari itu untuk menganalisis sebuah cerpen dapat menggunakan teori sastra strukturalisme, cerpen yang saya ambil adalah “Dua hati Menyatu”, karya Ikin Syamsudin Adeani. Saya memilih cerpen “Dua Hati Menyatu” karena menurut saya cerpen ini sangat menarik untuk di baca, cerpen ini menceritakan kisah cinta antara dua insan yang berbeda status yaitu seorang dosen dengan seorang mahasiswi yang kemudian hati mereka menyatu dalam sebuah cinta yang indah.
Sebagai analisis sebuah karya sastra, khususnya cerpen. Penulis menggunakan teori sastra strukturalisme, dengan bahan bahasan unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.




1.2 RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian teori sastra strukturalisme ?
2.      Apa unsur intrisik dan ekstrisik cerpen dua hati menyatu  ?

1.3  TUJUAN
1.      Ingin mengetahui pengertian teori strukturalisme.
2.      Ingin menganalisis cerpen dengan teori strukturalisme.

1.4  MANFAAT
1.      Penulis dan pembaca makalah ini dapat menganalisis karya sastra dengan teori strukturalisme.
2.      Penulis dan pembaca makalah ini dapat mengetahui pengertian teori sastra strukturalisme.



BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 TEORI STRUKTURALISME
“Dalam ilmu sastra pengertian “Strukturalisme” sudah dipergunakan dengan berbagai cara. Yang dimaksudkan dengan istilah “struktur” ialah kaitan-kaitan tetap antara kelompok-kelompok gejala. Kaitan-kaitan tersebut diadakan oleh seorang peneliti berdasarkan observasinya. Misalnya : pelaku-pelaku dalam sebuah novel dapat dibagikan menurut kelompok-kelompok sebagai berikut : tokoh utama, mereka yang melawannya, mereka yang membantunya, dan seterusnya. Pembagian menurut kelompok-kelompok didasarkan atas kaitan atau hubungan. Antara pelaku utama dan pelaku pendukung terdapat hubungan asosiasi (bantuan, dukungan, kepentingan bersama), antara pelaku utama dan para lawan hubungan aposisi. Hubungan-hubungan tersebut bersifat tetap, artinya tidak tergantung pada sebuah novel tertentu”. (Hartoko,1992:36).
“Strukturalisme Prancis atau biasa disebut strukturalisme klasik, dalam analisis lebih banyak menekankan deskripsi bahasa dalam teks sastra. Sementara strukturalisme Amerika, atau biasa disebut new criticism, meskipun berorientassi pada struktur dengan totalitasnya, lebih banyak berorienasi pada isi, baik terhadap adanya ambiguitas, ironi, maupun kajian baru model Pike dan becker yang berusaha menerapkan ilmu bahasa dan ilmu sastra dalam rangka melaksanakan telaah sastra”(Aminuddin,2008:53).

Dari kedua pengertian teori sastra strukturalisme yang di kutif dari dua buku yang berbeda maka dapat disimpulkan bahwa teori sastra strukturalisme adalah setiap suatu karya sastra mempunyai kaitan tetap antara kelompok gejala yang berorientasi pada struktur dengan totalitasnya dan lebih banyak berorientasi pada isi cerita.
2.2    ANALISIS CERITA SECARA STRUKTURALISTIK
       “Yang merintis jalan bagi analisa cerita secara strukturalistik ialah karya Vladimir Propp Morfologija Skazki (Morfologi dongeng ajaib,1928) yang baru pada tahun enam puluhan mulai dikenal di Erfopa Barat dan Amerika Serikat. Propp juga mempengaruhi ahli antropologi Prancis, Levi Strauss, dan beberapa teoritisi sastra Prancis. Propp menyajikan sebuah morfologi mengenai cerita dongeng, artinya ia melukiskan dongeng Rusia menurut bagian-bagiannya, bagaimana bagian-bagin itu saling tergantung dan bagaimana hubungan antara bagian-bagian dan keseluruhan. Ia membuktikan, bahwa semua cerita dongeng yang diselidikinya termasuk tipe sama menurut strukturnya”(Hartoko,1992:36).

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 SINOPSIS CERPEN DUA HATI MENYATU
Hari itu, Ita datang di kampus lebih awal dari teman- temannya, namun sudah sekian lama Ita menunggu, tak ada satupun temannya yang datang. Ternyata semua temannya sepakat untuk membolos. Akhirnya Ita memutuskan untuk pulang. Ketika hendak pulang, ada seorang dosen yang mengajak untuk pulang bareng bersama Ita. Namun Ita menolak dengan alasan akan mampir ke rumah Eci terlebih dahulu. Dosen tersebut adalah orang yang sangat dekat dengan Eci, sahabat Ita sendiri, dan Dosen itu adalah orang yang Ita cintai.
Sesampainya di rumah Eci, Ita terkejut ada dosen itu di rumah Eci, seketika perasaan cemburupun membara, tapi Eci menjelaskan bahwa dosen tersebut yang bernama Dena adalah pamannya dan Eci menjelaskan bahwa Dena sangat mencintai Ita, pada saat itu Ita langsung menerima cintanya Dena. Dan akhirnya dua hatipun menyatu.
3.2 UNSUR INTRINSIK
Tema cerpen “Dua Hati Menyatu” adalah percintaan, karena isi cerpen tersebut menceritakan kisah cinta seorang dosen dengan seorang mahasiswinya. Latarnya terjadi di kampus  “Seperti hari-hari biasa di kampus, aku selalu datang lebih awal dari teman-teman wanita lainnya”.(Adeani,2013:19). Serta di ruang tamu Eci “Di ruang tamu,hampir aku berteriak memanggil Eci”(Adeani,2013:29).
Cerpen ini menggunakan alur maju karena alur ceritanya dari tahap perkenalan sampai ending cerita.
Cerpen ini terdiri dari tiga tokoh yaitu Dena dan Ita sebagai tokoh utama serta Eci sebagai tokoh pembantu. Dena mempunyai sifat yang serius dan agamis seperti dalam kutipan “Saat itu pula aku teringat bisikan Eci bahwa dirinya seorang yang penuh keseriusan dan agamis”(Adeani,2013:26). Adapun tokoh Ita yang mempunyai sifat rendah diri “Rasanya tak mungkin dosen yang kandidat doktor itu sampai bersedia mengantar pulang seorang mahasiswi S-1 macam aku” (Adeani,2013:25). Serta yang terakhir adalah Eci, dia seorang yang pandai merahasiakan sesuatu “Satu-satunya sahabatku yang pandai menyimpan rahasia di kampus mengenai hubungan kekeluargaan dengan pamannya”(Adeani,2013:31)

3.3 UNSUR EKSTRINSIK
Kita bisa mengetahui bahwa cerpen “Dua Hati Menyatu” memiliki pesan moral yaitu jangan mudah digaet orang, dilihat dari kutipan “Andaikata ajakannya kuterima sekarang, betapa mudahnya diriku digaet orang”(Adeani,2013:26).
Dan ada pesan moral yang tidak terlepas dari tokoh ita yaitu Ita terlihat sangat menghormati dosennya meskipun menyukainya, sudah seharusnya mahasiswa itu menghormati dosennya.






BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Teori sastra strukturalisme adalah sebuah teori sastra yang menekankan seluruh relasi antar unsur-unsur yang ada dalam sebuah teks atau cerita.

4.2 SARAN
            Untuk itu kita sebagai mahasiswa perlu memahami macam-macam teori sastra agar dapat menganalisis sebuah karya sastra dengan baik.



DAFTAR PUSTAKA
Adeani, Ikin Syamsudin,2013.Kamar Dalam Kamar,Bandung,Batic Press.
Hartoko, Dick,1992.Pengantar Ilmu Sastra,Jakarta,PT Gramedia.
Aminudin,2009.Pengantar Apresiasi Kraya Sastra,Bandung,Sinar Baru Algensindo Offset.














.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar