PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pada abad ini
selalu terdapat ikatan-ikatan erat antara ilmu bahasa dan ilmu sastra. Banyak
sekali teori-teori sastra yang dapat digunakan, salah satunya yaitu teori
sastra strukturalisme. “Dalam ilmu
sastra pengertian “Strukturalisme” sudah dipergunakan dengan berbagai cara.
Yang dimaksudkan dengan istilah “struktur”
ialah kaitan-kaitan tetap antara kelompok-kelompok gejala (Hartoko,1992:36).
Maka dari itu
untuk menganalisis sebuah cerpen dapat menggunakan teori sastra strukturalisme,
cerpen yang saya ambil adalah “Dua hati Menyatu”, karya Ikin Syamsudin Adeani.
Saya memilih cerpen “Dua Hati Menyatu” karena menurut saya cerpen ini sangat
menarik untuk di baca, cerpen ini menceritakan kisah cinta antara dua insan
yang berbeda status yaitu seorang dosen dengan seorang mahasiswi yang kemudian
hati mereka menyatu dalam sebuah cinta yang indah.
Sebagai analisis
sebuah karya sastra, khususnya cerpen. Penulis menggunakan teori sastra
strukturalisme, dengan bahan bahasan unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.
Apa pengertian teori sastra
strukturalisme ?
2.
Apa unsur intrisik dan ekstrisik cerpen
dua hati menyatu ?
1.3 TUJUAN
1.
Ingin mengetahui pengertian teori
strukturalisme.
2.
Ingin menganalisis cerpen dengan teori
strukturalisme.
1.4 MANFAAT
1.
Penulis dan pembaca makalah ini dapat
menganalisis karya sastra dengan teori strukturalisme.
2.
Penulis dan pembaca makalah ini dapat
mengetahui pengertian teori sastra strukturalisme.
BAB
II
KAJIAN
TEORI
2.1
TEORI STRUKTURALISME
“Dalam ilmu
sastra pengertian “Strukturalisme” sudah dipergunakan dengan berbagai cara.
Yang dimaksudkan dengan istilah “struktur”
ialah kaitan-kaitan tetap antara kelompok-kelompok gejala. Kaitan-kaitan
tersebut diadakan oleh seorang peneliti berdasarkan observasinya. Misalnya :
pelaku-pelaku dalam sebuah novel dapat dibagikan menurut kelompok-kelompok
sebagai berikut : tokoh utama, mereka yang melawannya, mereka yang membantunya,
dan seterusnya. Pembagian menurut kelompok-kelompok didasarkan atas kaitan atau
hubungan. Antara pelaku utama dan pelaku pendukung terdapat hubungan asosiasi
(bantuan, dukungan, kepentingan bersama), antara pelaku utama dan para lawan
hubungan aposisi. Hubungan-hubungan tersebut bersifat tetap, artinya tidak
tergantung pada sebuah novel tertentu”. (Hartoko,1992:36).
“Strukturalisme
Prancis atau biasa disebut strukturalisme klasik, dalam analisis lebih banyak
menekankan deskripsi bahasa dalam teks sastra. Sementara strukturalisme
Amerika, atau biasa disebut new criticism, meskipun berorientassi pada struktur
dengan totalitasnya, lebih banyak berorienasi pada isi, baik terhadap adanya
ambiguitas, ironi, maupun kajian baru model Pike dan becker yang berusaha
menerapkan ilmu bahasa dan ilmu sastra dalam rangka melaksanakan telaah
sastra”(Aminuddin,2008:53).
Dari kedua
pengertian teori sastra strukturalisme yang di kutif dari dua buku yang berbeda
maka dapat disimpulkan bahwa teori sastra strukturalisme adalah setiap suatu
karya sastra mempunyai kaitan tetap antara kelompok gejala yang berorientasi
pada struktur dengan totalitasnya dan lebih banyak berorientasi pada isi
cerita.
2.2
ANALISIS
CERITA SECARA STRUKTURALISTIK
“Yang
merintis jalan bagi analisa cerita secara strukturalistik ialah karya Vladimir
Propp Morfologija Skazki (Morfologi dongeng ajaib,1928) yang baru pada tahun
enam puluhan mulai dikenal di Erfopa Barat dan Amerika Serikat. Propp juga
mempengaruhi ahli antropologi Prancis, Levi Strauss, dan beberapa teoritisi
sastra Prancis. Propp menyajikan sebuah morfologi mengenai cerita dongeng,
artinya ia melukiskan dongeng Rusia menurut bagian-bagiannya, bagaimana
bagian-bagin itu saling tergantung dan bagaimana hubungan antara bagian-bagian
dan keseluruhan. Ia membuktikan, bahwa semua cerita dongeng yang diselidikinya
termasuk tipe sama menurut strukturnya”(Hartoko,1992:36).
BAB
III
PEMBAHASAN
3.1
SINOPSIS CERPEN DUA HATI MENYATU
Hari itu, Ita
datang di kampus lebih awal dari teman- temannya, namun sudah sekian lama Ita
menunggu, tak ada satupun temannya yang datang. Ternyata semua temannya sepakat
untuk membolos. Akhirnya Ita memutuskan untuk pulang. Ketika hendak pulang, ada
seorang dosen yang mengajak untuk pulang bareng bersama Ita. Namun Ita menolak
dengan alasan akan mampir ke rumah Eci terlebih dahulu. Dosen tersebut adalah
orang yang sangat dekat dengan Eci, sahabat Ita sendiri, dan Dosen itu adalah
orang yang Ita cintai.
Sesampainya di
rumah Eci, Ita terkejut ada dosen itu di rumah Eci, seketika perasaan
cemburupun membara, tapi Eci menjelaskan bahwa dosen tersebut yang bernama Dena
adalah pamannya dan Eci menjelaskan bahwa Dena sangat mencintai Ita, pada saat
itu Ita langsung menerima cintanya Dena. Dan akhirnya dua hatipun menyatu.
3.2
UNSUR INTRINSIK
Tema cerpen “Dua
Hati Menyatu” adalah percintaan, karena isi cerpen tersebut menceritakan kisah
cinta seorang dosen dengan seorang mahasiswinya. Latarnya terjadi di
kampus “Seperti hari-hari biasa di
kampus, aku selalu datang lebih awal dari teman-teman wanita
lainnya”.(Adeani,2013:19). Serta di ruang tamu Eci “Di ruang tamu,hampir aku
berteriak memanggil Eci”(Adeani,2013:29).
Cerpen ini
menggunakan alur maju karena alur ceritanya dari tahap perkenalan sampai ending
cerita.
Cerpen ini
terdiri dari tiga tokoh yaitu Dena dan Ita sebagai tokoh utama serta Eci
sebagai tokoh pembantu. Dena mempunyai sifat yang serius dan agamis seperti
dalam kutipan “Saat itu pula aku teringat bisikan Eci bahwa dirinya seorang
yang penuh keseriusan dan agamis”(Adeani,2013:26). Adapun tokoh Ita yang
mempunyai sifat rendah diri “Rasanya tak mungkin dosen yang kandidat doktor itu
sampai bersedia mengantar pulang seorang mahasiswi S-1 macam aku”
(Adeani,2013:25). Serta yang terakhir adalah Eci, dia seorang yang pandai
merahasiakan sesuatu “Satu-satunya sahabatku yang pandai menyimpan rahasia di
kampus mengenai hubungan kekeluargaan dengan pamannya”(Adeani,2013:31)
3.3
UNSUR EKSTRINSIK
Kita bisa
mengetahui bahwa cerpen “Dua Hati Menyatu” memiliki pesan moral yaitu jangan
mudah digaet orang, dilihat dari kutipan “Andaikata ajakannya kuterima
sekarang, betapa mudahnya diriku digaet orang”(Adeani,2013:26).
Dan ada pesan
moral yang tidak terlepas dari tokoh ita yaitu Ita terlihat sangat menghormati
dosennya meskipun menyukainya, sudah seharusnya mahasiswa itu menghormati
dosennya.
BAB
IV
PENUTUP
4.1
KESIMPULAN
Teori sastra
strukturalisme adalah sebuah teori sastra yang menekankan seluruh relasi antar
unsur-unsur yang ada dalam sebuah teks atau cerita.
4.2
SARAN
Untuk
itu kita sebagai mahasiswa perlu memahami macam-macam teori sastra agar dapat
menganalisis sebuah karya sastra dengan baik.
DAFTAR
PUSTAKA
Adeani, Ikin Syamsudin,2013.Kamar
Dalam Kamar,Bandung,Batic Press.
Hartoko, Dick,1992.Pengantar Ilmu
Sastra,Jakarta,PT Gramedia.
Aminudin,2009.Pengantar Apresiasi Kraya
Sastra,Bandung,Sinar Baru Algensindo Offset.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar