Kamis, 13 November 2014

Resensi Novel Laskar Pelangi



Resensi Buku Sastra
Identitas Buku
Judul                            : Laskar Pelangi
Penulis                         : Andrea Hirata
Penerbit                       : Bentang
Kota Tempat terbit      : Jalan. Pandega Padma 19, Yogyakarta
Tahun Terbit                : 2007
Tebal Halaman            : 533 halaman

PENTINGNYA PENDIDIKAN

            Laskar Pelangi, mungkin kata-kata itu sudah tak asing lagi ditelinga para pembaca, Laskar Pelangi adalah sebuah novel yang telah membooming di antere negeri ini, penulis novel yang begitu berbakat dalam bidang satra ini bernama Andrea Hirata. Penulis novel ini yang tak lain berganti menjadi seorang tokoh yang menjadi Ikal dengan cerdasnya mengajak pembaca untuk bisa mengikuti nostalgia kehidupan masa kanak-kanaknya di pedalaman Belitong yang terkenal dengan kekayaan alamnya terutama tambang timahnya, namun masyarakatnya tetap miskin dalam kesehariaannya, karena tambanng-tambang timah itu dikuasai oleh orang asing

            Novel laskar pelangi ini mengisahkan tentang kenangan 11 anak belitung yang mempunyai semangat untuk mengenyam pendidikan, mekipun hanya di sekolah terpencil serta dengan segala keterbatasan.  10 anak belitung ini tergabung dalam sebutan “Laskar Peangi” antaralain  Aku sebagai Ikal dengan watak yang tegar dan tidak mudah putus asa; Lintang dengan watak pantang menyerah dan cerdas; Mahar dengan watak imajinatif, kreatif dan cerdas; Trapani dengan watak cedas dan manja; Kucai dengan watak hiperaktif, banyak bicara dan susah diatur; Sahara dengan watak keras kepala, cerdas dan baik hati; A kiong dengan watak baik tapi sedikit aneh; Harun dengan watak baik tetapi sedikit keterbelakngan mental; Borek dengan watak nakal dan susah diaturdan Syahdan. Serta Ibu guru yang selalu setia mendidik 10 anak belitong itu bernama Muslimah Hafsari dengan watak baik hati, sabar dan penyayang, mereka semua tergabung dalam sebuah sekolah yanag berdiri atas bantuan-bantuan donatur yang ikhlas menyisihkan rezekinya untuk tetap berdirinya sekolah tersebut, sekolah itu bernama SD Muhammadiyah yang tampak begitu rapuh, namun bagi mereka keadaan sekolah yang jauh dari kata mewah itu tidak menjadi masalah untuk menjadi seseorang yang mempunyai ilmu wawasan yang tinggi seperti siswa yang sekolah di sekolahan elit.
            Alur dalam novel ini bersifat alur maju, karena ceritanya tersusun rapi dari awal hingga akhir, dengan sudut pandang memakai kata ganti orang pertama karena dalam cerita, peulis menggunakan kata Aku, adapun settingnya berada di sekolah, di bawah pohon, di rumah, serta suasana yang begitu bervariasi yaitu menyenangkan, menyedihkan, mengharukan.
            Keunnggulan novel ini yaitu hubungan antara bagian satu dengan lainnya yang begitu harmonis sehingga menimbulkan rasa penasaran bagi para pembacanya, sedangkan kelemahaannya yaitu adanya kata-kata yang tidak mudah dipahami oleh pembaca.
            Dari novel ini pembaca dapat mengambil berbagai hikmah antaralain : pembaca dapat mengetahui bahwa pendidikan itu sangatlah penting, kemiskinan bukan menjadi alasan untuk tidak mempunyai cita-cita yang tinggi, secara keseluruhan novel ini bagus dan sangat inspiratif bagi para pembaca.

             


Tidak ada komentar:

Posting Komentar